Sosialisasi Kespro Di Sekolah Banyak Mendapatkan Hambatan

Pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi atau kespro sangat penting untuk diberikan dan disosialisasikan kepada anak-anak sejak usia dini. Hanya saja, sosialisasi ini terkendala oleh masih banyak menganggap pendidikan kespro ini tidaklah penting dan tabu menurut budaya Timur sekaligus minim tenaga medis yang dapat berkunjung ke sekolah untuk melakukan sosialisasi.

Staf Pengelola Program HIV Dinkes Provinsi DKI Jakarta, Rahmat Aji Pramono mengatakan bahwa hambatan dari sosialisasi program kesehatan seksual dan reproduksi adalah dikarenakan kurangnya tenaga ahli dan medis dibandingkan dengan jumlah sekolah yang ada. Kurangnya jumlah tenaga ahli ini menyebabkan sosialisasi berjarang kurang efektif dan sulit menjangkau seluruh sekolah secara merata.

“Hambatan yang dialami adalah sosialisasi program kesehatan seksual dan reproduksi adalah kurangnnya tenaga ahli untuk dapat berkunjung ke sekolah-sekolah sehingga program ini tidak dapat menjangkau semua sekolah,” katanya.

Sosialisasi Kespro Di Sekolah Banyak Mendapatkan Hambatan
Sosialisasi Kespro Di Sekolah Banyak Mendapatkan Hambatan

Berikutnya, Mono mengatakan bahwa hambatan juga datang dari sekolah yang menganggap tabu untuk membahas kesehatan seksual dan reproduksi. Akibat dari sikap sekolah tersebut, ketika tim sosialisasi program ini datang ke sekolah untuk mengajukan sosialisasi, pihak sekolah langsung menolak.

“Masih ada sekolah yang menganggap hal ini tabu dan biasanya itu ada disekolah dengan biaya bulanan yang mahal. Mereka akan langsung menolak ketika diminta izin sosialisasi program ini padahal program ini merupakan program penting untuk siswa dan siswi usia remaja,” jelasnya.

Hambatan terakhir dari program ini adalah kurang mendapatkan minat dari para siswa sekolah yang dikunjungi. Mono menjelaskan bahwa siswa yang mendapatkan kunjungan program ini lebih banyak asyik dengan dunia mereka sendiri seperti bermain gadget atau berbicara dengan temannya ketika sosialisasi sedang dilakukan.

“Ada juga hambatan dari siswa sekolah yang kami kunjungi. Sering kali kami mendapatkan siswa-siswa tidak memperhatikan ketika kami sedang memberikan paparan. Siswa-siswa ini justru terlihat sibut main handphone dan mengobrol dengan temannya sehingga apa yang disampaikan juga tidak akan maksimal diterima oleh siswa tersebut,” jelasnya.