Pentingnya Pendidikan dan Sekolah Khusus untuk Anak Gifted

Maria Clara Yubilea Sidharta atau akrab disapa Lala, berhasil menamatkan bangku sarjana di usia 19 tahun. Gadis yang meraih gelar cum laude itu mendapat IPK 3,78 dan baru saja diwisuda pada Sabtu pagi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Dia merupakan remaja gifted dan berkebutuhan khusus.Berkebutuhan khusus memang bukan hanya merujuk pada disabilitas fisik dan mental, tapi juga keterbatasan diri dalam tingkah laku, emosional, dan belajar. Sementara anak gifted merupakan anak berbakat memiliki kecerdasan intelektual very superior atau skor di atas 130 dalam skala weschler. Anak-anak gifted cenderung memiliki kemampuan 4 kali lipat dibanding anak biasa.Jika kita menganggap anak gifted atau jenius bisa melakukan banyak hal, kita salah. Mereka sangat butuh pendampingan dan sangat mudah bosan, terutama saat merasa tak ada lagi tantangan.Di Sekolah,banyak anak gifted yang justru dianggap nakal, sulit diatur, atau trouble maker. Tak sedikit pula anak gifted yang menjadi korban perundungan teman sebaya. Menurut situs resmi American Addiction Centers MentalHelp.net, dalam banyak kasus, anak gifted mampu menguasai pelajaran di sekolah formal. Beberapa ada yang menjadi tidak tertandingi, sementara yang lain justru tidak bisa berkembang sehingga menjadi bosan, frustasi, dan muncul efek negatif lain. “Agar anak-anak bisa mengembangkan kepercayaan diri, anak-anak harus memiliki “ruang” untuk dapat mengatasi tantangan dan kesulitan yang tepat,” tulis laman tersebut. Siswa berbakat yang tidak mendapat tantangan dari materi di sekolah umum, sering mengembangkan diri ke arah negatif atau menjadi terlalu sombong. Oleh sebab itulah, para ahli mengatakan program pendidikan untuk anak berbakat dapat memberi siswa tantangan yang pas sehingga mengasah kemampuan mereka.Sayangnya, di Indonesia sendiri masih sedikit sekolah untuk anak-anak gifted.Ada, tapi sedikit sekali. Pengalaman Lala ketika merasakan bangku Sekolah Dasar(SD),dia sempat berulang kali pindah sekolah dan mogok sekolah. Lala mengaku saat masih SD cepat bosan di sekolah.bu Lala, Patricia Lestasi Taslim, bercerita kepada Kabarberita, anak gifted memiliki aneka macam keunikan dan bakat. Dalam komunitas Parents Support Group for Gifted Childer (PSGGC) Yogyakarta yang dibentuknya, ada salah satu orangtua bercerita anaknya tinggal kelas karena tidak mau menulis. Anak tersebut memiliki skor IQ di atas Lala dan mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan guru, tapi dia tidak mau menulis. Inilah yang menyebabkan anak tersebut tinggal kelas. “Ketika gurunya minta tulis (jawaban), dia jawab, ‘buat apa? Kan bu guru sudah tahu aku bisa jawab. Ngapain aku capek-capek nulis?’. Nah, hal yang seperti ini justru membuat dia tinggal kelas. Karena dia marah, akhirnya dia mogok sekolah,” cerita Patricia ditemui di rumahnya. “Siapa yang salah? Sistem yang terlalu kaku. Harusnya sistem ada untuk membantu manusia, bukan untuk menjadi penjara manusia,” ungkap Patricia.