Pemkab Garut Gabung 22 Sekolah Dasar Untuk Efisiensi

Pemerintah Kabupaten Garut telah melakukan penggabungan terhadap puluhan sekolah dasar atau SD negeri yang berada di wilayah Kabupaten Garut. Proses penggabungan ini dieksekusi oleh Dinas Pendidikan Garut.

Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Garut, Ade Manadin menjelaskan bahwa penggabungan ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi anggaran, saran dan prasaran pendidikan serta untuk mengejar target Delapan Standar Nasional Pendidikan Indonesia yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Budaya.

Pemkab Garut Gabung 22 Sekolah Dasar Untuk Efisiensi
Pemkab Garut Gabung 22 Sekolah Dasar Untuk Efisiensi

“Hingga saat ini yang telah di gabung berjumlah 24 sekolah,” kata Ade.

Ade mengatakan bahwa penggabungan ini bukanlah tanpa alasan. Selama ini keberadaan sekolah tersebut dinilai tidaklah efektif karena tidak memiliki peserta didik yang cukup serta ditambah dengan sarana dan prasarana yang tidak mendukung membuat sekolah-sekolah tersebut seperti di anak tirikan.

Menurutnya, jika sekolah tersebut tetap dipertahankan maka hasilnya tetap tidak akan efektif. Bahkan Ade mengatakan bahwa dikhawatirkan sekolah-sekolah tersebut tidak akan dapat memenuhi batas minimum dari Delapan Standar Nasional Pendidikan Indonesia.

Dirinya menambahkan bahwa 24 sekolah yang digabung tersebut tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Garut di antaranya adalah Limbangan, Leles, Banjarwangi dan Pasirwangi.

“Penggabungan puluhan SD tersebut telah sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Budaya nomor 36 tahun 2014 mengenai Pedoman Pendirian, Perubahan dan Penutupan Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah,” kata Ade.

Pemkab Garut Gabung 22 Sekolah Dasar Untuk Efisiensi
Pemkab Garut Gabung 22 Sekolah Dasar Untuk Efisiensi

Ade menyebutkan bahwa secara ideal seorang kepala sekolah tingkat SD harus memiliki 672 siswa di sekolahnya yang dibagi menjadi 6 tingkat.

“Idealnya itu adalah masing-masing kelas harus memiliki 28 peserta didik dengan komposisi masing-masing tingkat itu memiliki 4 grup atau kelas,” lanjut Ade.

Mengenai kerusakan dari sarana dan prasarana, Ade mengatakan bahwa jumlah dari keseluruhan SD yang berada di Garut saat ini yang mencapai 1.587 sekolah hanya tersisa 30 persen yang belum diperbaiki dan ditargetkan paling lambat 2021 akan selesai semua.

“SD yang rusak tinggal 30% dan ditargetkan semua selesai tahun depan dengan catatan dana alokasi khusus yang dicairkan oleh pemerintah kembali sebesar Rp 66 miliar jika tidak maka paling lambat tahun 2021. Kami optimis tahun 2021 sudah tidak ada sekolah yang rusak lagi,” tutup Ade.