Pemerintah Rencanakan Tingkatkan Peranan Pendidikan Dasar Untuk Basmi Buta Huruf

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan bahwa pendidikan dasar memiliki peranan penting dalam memberantas buta aksara di Indonesia sehingga mengharuskan peranan dari pendidikan dasar tersebut ditingkatkan.

“Pendidikan dasar memiliki peranan yang penting dalam menciptakan generasi emas. Oleh karena itu, pendidikan dasar perlu mendapatkan porsi perhatian yang besar pula,” jelasnya ketika peringatan Hari Aksara Internasional di Makassar.

Dirinya mengatakan bahwa upaya pemberantasan buta aksara telah dilakukan sejak Indonesia baru merdeka pada tahun 1945 yang dimana pada saat itu jumlah angka buta aksara mencapai 97 persen.

Pemerintah Rencanakan Tingkatkan Peranan Pendidikan Dasar Untuk Basmi Buta Huruf
Pemerintah Rencanakan Tingkatkan Peranan Pendidikan Dasar Untuk Basmi Buta Huruf

Pada saat itu, Presiden Soekarno mencanangkan gerakan pemberantasan buta aksara dengan melibatkan partisipasi semua lapisan masyarakat. Setelah itu, Presiden Soeharto secara masif mendirikan SD Inpres untuk juga mempercepat pemberantasan buta aksara dan terbukti cukup efektif untuk menurunkan angka buta aksara.

Akan tetapi, dirinya melanjutkan bahwa saat ini kemampuan membaca, menulis serta berhitung sudah tidaklah cukup untuk memenuhi tuntutan jaman. Saat ini kemapuan tambahan lainnya seperti literasi finansial, sains hingga digital dan budaya telah menjadi bagian dari literasi dasar yang harus dapat dikuasai dan dipelajari sejak usia dini.

“peranan SD Inpres atau pendidikan dasar itu harus ditingkatkan. Tidak lagi hanya sekedar kemampuan baca, tulis dan berhitung seperti jaman dulu tapi sudah harus lebih luas lagi seperti sains, digital dan budaya,” katanya.

Jumlah penduduk buta aksara yang mencapai 97 persen ketika Indonesia baru merdeka telah turun menjadi hanya 3,4 persen pada tahun 2015.

menurut survei Sosial Ekonomi Nasional yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik atau BPS pada tahun 2018, jumlah penduduk buta aksara saat ini hanya tinggal 3,29 juta orang atau sekitar 1,93 persen dari total jumlah penduduk Indonesia.