Mengenal dan mengetahui pelajaran agama di sekolah

Pemerintah sekarang, yang dipimpin Presiden Joko Widodo cukup sering dituduh hendak menghilangkan pelajaran agama di sekolah. Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sampai beberapa kali harus menjelaskan, memberi klarifikasi, bahwa tidak ada rencana pemerintah untuk menghapus pelajaran agama di sekolah. Bagi saya, beredarnya informasi palsu soal itu justru sebuah tanda bahwa pelajaran agama di sekolah kita memang bermasalah.
Soal pelajaran agama di sekolah ini adalah salah satu tema fitnah terhadap Jokowi yang terkait dengan agama Islam. Fitnah lain seperti tuduhan bahwa Jokowi akan melarang azan, ia seorang komunis yang anti-agama, dan sebagainya. Apa hubungannya dengan pelajaran agama di sekolah? Penyebar fitnah itu adalah para guru agama, dan disebar lewat pelajaran agama.
Seberapa seriuskah masalahnya? Saya tidak punya data kuantitatif soal berapa jumlah guru agama yang aktif menyebar fitnah, tapi saya cukup sering mendengar cerita kejadiannya. Secara umum dapatlah kita asumsikan bahwa intensitasnya setara dengan intensitas tersebarnya fitnah politik dalam forum-forum pengajian.
Meski intensitasnya masih rendah sekali pun, masalah ini tidak bisa dianggap remeh. Menunggangi agama untuk keperluan politik sudah jadi masalah besar di negeri ini. Menggunakan kegiatan mengajar di kelas untuk kegiatan politik pun masalah besar pula. Menggunakan kegiatan mengajar agama di kelas untuk kegiatan politik, dengan muatan fitnah sebagai bahan baku, adalah masalah yang tingkat keseriusannya berlipat-lipat.
Agama seharusnya menjadi penuntun, mengarahkan orang untuk kebaikan. Tapi ada orang-orang yang mengaburkan definisi kebaikan. Dengan dalih bahwa politik pun harus diwarnai dengan nilai-nilai agama, ia membawa agama ke ruang politik. Salahkah mewarnai politik dengan nilai-nilai agama? Tidak, bila yang dibawa adalah nilai moral. Masalahnya, yang dibawa bukan itu. Yang dibawa sebenarnya kepentingan politik berbalut agama.
Kalau orang mau mewarnai politik dengan nilai agama, ia tentu meletakkan kejujuran di tempat paling tinggi. Memfitnah adalah perbuatan keji, termasuk memfitnah lawan politik. Memfitnah lawan politik dengan isu agama jelas bukan tindakan mewarnai politik dengan nilai agama.
Tapi para guru agama bukan politikus. Betul. Mereka bahkan dilarang berpolitik. Inilah masalah berikutnya. Dengan alasan agama, orang bisa menganggap bahwa apapun sah dilakukan, termasuk mengabaikan berbagai aturan negara, dengan dalih bahwa aturan negara itu tidak perlu dipatuhi, karena itu aturan buatan manusia.
Jadi, sekali lagi, pelajaran agama di sekolah memang sedang bermasalah. Masalahnya secara umum sejajar dengan masalah kita dalam beragama secara keseluruhan. Agama lebih sering dihadirkan dalam bentuk simbol-simbol untuk menandai kelompok. Hubungan antarumat beragama sering dilihat dalam format persaingan, ada umat yang menang dan kalah. Bahkan lebih parah lagi, hubungan itu dilihat dalam format permusuhan.
Kenapa bisa begitu? Dari mana sumbernya? Saya harus mengatakan dengan tegas bahwa sumbernya adalah ajaran agama itu sendiri. Agama-agama yang dianut orang zaman sekarang lahir ribuan tahun yang lalu, ketika orang-orang masih sibuk berperang untuk menaklukkan. Perang penaklukkan dianggap perang suci. Melalui penaklukan agama ikut tersebar. Akibatnya, kepentingan penaklukan menjadi kabur batasnya dengan kepentingan penyebaran agama.