Melalui Program GSMS, Para Seniman Mengajar Di SD Kabupaten Purbalingga

Pegiat film yang tergabung dalam Cinema Lovers Community Purbalingga selama ini dikenal sebagai salah satu pihak yang sering mendampingi siswa SMA untuk proses pembuata film. Bagaimana jika mereka ditantang untuk mendidik anak-anak di Sekolah Dasar?

Tantangan tersebut menjadi pengalaman yang tidak terlupakan oleh tiga anggota CLC Purbalingga, Bowo Leksono, Padmashita Kalpika Anindyajati dan Nur Muhammad Iskandar. Mereka bertiga terjung untuk menjadi pendidik siswa SD Negeri I Sangkanayu Kecamatan Mrebet, SD Negeri 1 Karangcegak Kecamatan Kutasari dan SD Negeri 1 Makam Kecamatan Rembang melalui gerakan Gerakan Seniman Masuk Sekolah 2019.

Bowo menjelaskan bahwa mengajari film untuk anak-anak SD merupakan sebuah tantangan yang baru untuknya. Hal ini disebabkan, mereka lebih terbiasa memberi materi produksi film untuk para remaja dan anak setingkat SMP dan SMA.

Walaupun begitu, dirinya mengaku bahwa keinginan untuk memberikan pengetahuan akan film kepada siswa SD merupakan cita-citanya sejak lama. Akhirnya hal itu dapat tercapai ketika Direktorat Kesenian pada Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan program Gerakan Seniman Masuk Sekolah.

Melalui Program GSMS, Para Seniman Mengajar Di SD Kabupaten Purbalingga
Melalui Program GSMS, Para Seniman Mengajar Di SD Kabupaten Purbalingga

“Film untuk dapat masuk SD sudah menjadi keinginan lama kami. Kebetulan ada program dari pemerintah pusat jadi kami mengambil bagian seperti gayung bersambut,” jelas Direktur CLC Purbalingga.

Bagian tersulit bagi para penggiat film ini adalah ketika menjelaskan materi baik itu teori ataupun praktik karena mereka harus mengubah cara berkomunikasi dengan bahaya yang dapat dipahami oleh anak-anak yang berusia antara 10 hingga 12 tahun.

“Kami harus melakukan perulangan beberapa kali supaya mereka dapat paham. Tetapi, semangat mereka untuk belajar itu membuat kami dapat terus berkomitmen untuk melatih tanpa henti,” jelasnya.

Padmashita menambahkan bahwa mengajar siswa SD dibutuhkan kesabaran. Selain itu, dirinya juga wajib membuat anak-anak itu tetap nyaman ketika proses pembuatan film.

“Anak-anak tingkat SD ini kan masih berpikir main ya sehingga kami harus menyesuaikan dengan keadaan yaitu bagaimana kami dapat membuat film dengan cara bermain akan tetapi tetap serius sehingga hasilnya juga maksimal,” ujarnya.

Meski sempat mendapatkan kesulitan, Bowo mengaku bahwa dirinya puas dengan hasil yang diperoleh ini. Sejauh ini, program GSMS ini berhasil memproduksi 15 vlog, video jurnalisme warga, dokumenter sederhana hingga fiksi pendek. Pada akhir program di Purbalingga, karya anak-anak SD ini akan ditayangkan bersama dengan karya seni lainnya sehingga dapat ditonton oleh masyarakat mulai 2019 yang akan datang.

“Walaupun masih anak-anak, mereka ini cepat untuk menguasai teknologi. Tinggal bagaimana kami mengarahkan kemampuan mereka untuk terwujud sebagai sebuah karya yang dapat dinikmati dan berguna untuk orang banyak,” jelas Bowo.

Program GSMS di Purbalingga ini dilaksanakan dibawah pengawasan dari Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemkab Purbalingga. Dari 30 seniman, terdapat 21 seniman yang berasal dari berbagai latar belakang seperti seni lukis, tari, musik tradisi, musik kontemporer, teater, film dan sastra.

Para seniman ini diterjunkan di 21 sekolah yaitu 12 untuk SMP dan 9 untuk SD yang tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Purbalingga. Program ini berlangsung sekitar tiga bulan dalam bentuk edukasi kesenian hingga kegiatan ekstrakulikuler di sekolah sebanyak 27 kali pertemuan.