Kiat Dongkrak Semangat Anak Sekolah Dasar untuk Belajar

Anak yang giat belajar dan memiliki nilai akademis baik di sekolah adalah harapan dari setiap orangtua. Berbagai usaha pun dilakukan para orangtua untuk memenuhi harapan tersebut. Ada yang menjadwalkan anak untuk kursus tambahan di luar sekolah, dan tidak sedikit orangtua yang berperan langsung menjadi pembimbing belajar. Faktanya, untuk memotivasi anak-anak sekolah dasar, memang tak sesulit memotivasi anak remaja. Hal tersebut disampaikan oleh seorang psikolog bernama Roslina Verauli. Ditemui dalam acara peluncuran Quipper Video di CGV Blitz,Grand Indonesia, Jakarta.Roslina mengungkapkan, untuk memotivasi anak sekolah dasar (SD) belajar, maka orangtua harus terlibat langsung. Caranya, orangtua harus peduli dan tertarik dengan pelajaran anak. Lalu, biasakan berkomunikasi dengan anak, seperti meminta mereka untuk menceritakan apa yang dipelajari di kelas. Selain itu, orangtua juga harus menjadi teladan untuk anak-anak. Tak bisa dimungkiri bahwa hal pertama yang dicontoh anak adalah apa yang mereka lihat pada orangtua mereka. “Coba baca buku, koran, atau buku pelajaran di depan anak agar mereka dapat mencontoh kebiasaan baik yang serupa,” ujar Roslina. Terakhir, Roslina mengingatkan, orangtua jangan malas menemani anak belajar. Dengan menemani anak belajar dapat membuat hati si kecil gembira karena diperhatikan, sehingga lebih bersemangat belajar.Seorang anak banyak belajar lewat tantangan-tantangan yang dihadapinya setiap hari. Tapi, sudah tahukah bahwa perkembangan kepribadian anak berhenti ketika anak menginjak usia 12 tahun? Artinya, orangtua perlu memberikan dukungan penuh dalam membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang unggul. “SD (Sekolah Dasar) adalah masa penting karena di situ puncak anak belajar untuk mengembangkan kepribadian.” “Perkembangan tahapan kepribadian anak selesai setelah 12 tahun. Kepribadian bisa berubah, tapi lebih sulit,” kata Psikolog anak dan keluarga Rosdiana Setyaningrum M.Psi. MHPEd beberapa waktu lalu di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.Rosdiana menjelaskan tahapan perkembangan kepribadian anak sejak usia balita. Pada usia 1 hingga 3 tahun, anak harus lebih mandiri dan sebisa mungkin mengerjakan banyak hal sendiri. Memasuki usia 4 hingga 5 tahun, anak sudah harus bisa memilih dan berkonsekuensi. “Misal dia bilang mau ayam goreng ya dia harus makan. Enggak boleh begitu disediakan ayam dia tidak mau, lalu maunya nasi goreng. Itu enggak boleh,” kata dia. Memasuki usia SD, seorang anak idealnya bisa berprestasi. Tak harus dibidang akademis, anak bisa memilih bidang apapun yang diminatinya. Anak juga harus mulai bisa menerima risiko. Ketika anak bisa mencetak prestasi, sekecil apapun prestasi itu akan membuat anak merasa dirinya berharga.Situasi itu jika terjadi terus-menerus akan menumbuhkan kepercayaan diri anak, bahwa dirinya bisa mengerjakan banyak hal sendiri. Ketika seorang anak sudah merasa percaya diri, keyakinan tersebut akan terbawa hingga ia dewasa. Hal ini juga berlaku pada kepribadian lainnya. Rosdiana mengatakan, kepribadian bisa berubah setelah usia 12 tahun, namun cenderung lebih sulit. “Dengan dia merasa mampu, dia tahu kelebihan dirinya di mana dan kekurangannya di mana. Ini dasar kepercayaan dirinya bahwa dia bisa melakukan sesuatu,” kata Rosdiana.