Fintech DanaRupiah Gandeng HACKTIV8 Untuk Bantu Pembiayaan Pendidikan

Dunia terus berubah setelah Revolusi Industri Di Inggris yang ditandai dengan ditemukannya mesin uap, saat ini dunia telah bersiap memasuki era industri 4.0 yang dimana ditandai dengan penggunaan teknologi diberbagai bidang. Industri 4.0 ini merupakan keadaan dimana banyak pekerjaan yang dulunya dilakukan oleh manusia akan digantikan oleh mesin dan robot.

Untuk menghadapi era seperti itu, pendidikan dan penguasaan teknologi yang baik akan menjadi faktor penentu bagi setiap negara. Melalui pendidikan, seseorang akan memiliki skill yang dibutuhkan pada zaman yang menuntut efektivitas dan efisiensi ini.

Indonesia yang telah digerbang pintu dari bonus demografi yang dimana akan memiliki angkatan kerja yang lebih besar dari angkatan pensiun harus mempersiapkan semua sumber daya manusianya untuk dapat bersaing pada era industri 4.0 ini.

Fintech DanaRupiah Gandeng HACKTIV8 Untuk Bantu Pembiayaan Pendidikan
Fintech DanaRupiah Gandeng HACKTIV8 Untuk Bantu Pembiayaan Pendidikan

Walaupun begitu, kenyataannya adalah Indonesia masih saja berkutat pada hal yang sama yaitu pendidikan selalu dinomor 2 kan. Angka putus sekolah masih menjadi masalah di dunia pendidikan. Tercatat 187.824 siswa di Indonesia mengalami putus sekolah karena berbagai alasan walaupun alasan paling utama adalah masalah ekonomi pada tahun ajaran 2017/2018. Sebanyak 73.000 merupakan siswa dari SMK yang dimana diharapkan akan menjadi ujung tombak dari sumber daya manusia Indonesia untuk menghadapi Industri 4.0.

Salah satu solusi yang dapat ditempuh adalah mencari alternatif pendidikan lain seperti kurus ataupun mengikuti pelatihan yang bersifat cepat dan langsung pada pokok pemasalahan akan tetapi hal tersebut juga tidak dapat membantu karena tersangkut masalah ekonomi dari masyarakat Indonesia yang sebagian masih hidup dibawah garis kemiskinan.

Mengenai hal tersebut, PT Layanan Keuangan Berbagai merasa perlu mengambil bagian dalam membantu masyarakat yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan pendidikan yang baik karena masalah biaya pendidikan yang semakin tinggi tiap tahunnya.

PT Layanan Keunagan Berbagai merupakan sebuah fintech yang memberikan pinjaman dana tunai dengan sistem peer to peer atau P2P.

Sistem ini membuat sang calon debitur dapat memperoleh pinjaman dengan bunga yang kompetitif dan mudah diakses oleh siapa saja berbeda dengan bank yang membutuhkan persyaratan yang rumit.

Direktur dari PT Layanan Keuangan Berbagai, Wahyu S. Ariyanto menjelaskan bahwa pihaknya ingin turut berpartisipasi dalam memajukan pendidikan nasional dengan cara berinvetasi pada sumber daya manusia dengan program DanaRupiah Pendidikan.

“Untuk mencapai target yang dimana semua anak Indonesia dapat mendapatkan pendidikan hingga minimal SMA atau SMK maka tentunya harus melewati beberapa proses dan kami sebagai fintech memiliki tugas untuk menjembatani hal ini,” katanya.

Oleh karena itu, perusahaan yang telah terdaftar di OJK ini meluncurkan layanan baru yang merupakan layanan pinjaman pendidikan untuk calon debitur uang ingin menuntut ilmu di lembaga pendidikan ana tetapi terkendala masalah biaya. Adapun lembaga pendidikan tersebut adalah lembaga pendidikan yang bersifat training dan pelatihan.

Untuk menjalankan program pinjaman pendidikannya tersebut, PT Layanan Keuangan Berbagi ini tidaklah bekerja sendiri akan tetapi mereka juga menggandeng partner lain yaitu institusi pendidikan non-forman yang bergerak di sektor IT, HACTIV8.

CEO HACTIV8, Ronald Ishak menjelaskan bahwa dirinya sangat menyambut kerjasama ini dengan tangan terbuka.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada DanaRupiah untuk kepercayaannya ini. Sebagai informasi, siswa yang lulus dari lembaga pelatihan kami semenjak berdiri pada tahun 2016 telah berjumlah 300 orang dan semuanya telah memiliki pekerjaan yang sesuai dengan apa yang mereka pelajari,” jelas Ronald.

Menurut Ronald hal tersebut merupakan HACKTIV8 untuk memenuhi tuntutan pasar tenaga kerja Indonesia yang menghendakati tenaga kerja dengan SDM yang mumpuni terutamanya pada bidang web developing yang merupakan bidang yang menjadi fokus dari HACKTIV8.

Saat ini siswa yang lulus dari HACKTIV8 tersebar diberbagai startup nasional seperti Tokopedia, Gojek dan Bukalapak bahkan beberapa mencoba peruntungan sendiri dengan memulai bisnis sendiri.

“Pemasalahan di lembaga kami adalah banyaknya siswa yang tidak dapat melanjutkan karena masalah biaya. Dengan kerjasama ini tentunya kami sangat berharap dapat membantu siswa kami untuk mengejar mimpinya,” kata Ronald.