Bertahun-tahun, Pelajar SD di Tasikmalaya Ini Belajar Sambil Lesehan

Belasan pelajar kelas II Sekolah dasar (SD) Negeri Cikadongdong, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya,terpaksa melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara lesehan.Mereka mendapatkan materi pelajaran tanpa dilengkapi fasilitas ruang kelas seperti kursi dan meja belajar seperti yang dinikmat siswa lain pada umumnya. Para siswa di kelas itu pun tak memiliki ruang kelas khusus. Kegiatan belajar dan mengajar yang dilakukan di ruang perpustakaan hanya menggunakan meja kecil seperti di madrasah. Selama ini, sekolah tersebut kekurangan bangunan ruang kelas. Padahal, bantuan dari pemerintah pusat dan daerah selalu gencar tiap tahunnya.Kepala SD Cikadongdong Eti Kursiasih mengatakan, sekolahnya sudah sejak 28 tahun lalu mengajukan proposal pembangunan ruang kelas baru ke Dinas Pendidikan dan ke pemerintah daerah. Namun, sampai sekarang belum ada realisasinya. “Saya masih ingat janji manis Bupati Tasikmalaya, saat itu Pak Uu Ruzhanul Ulum, pernah meninjau langsung ke sini. Tapi sampai sekarang tidak dibangun juga,” kata Eti Kursiasih. Menurut Eti, sempat beberapa kali ada petugas pengukuran yang mengaku dari Dinas Pendidikan setempat. Namun, realitas pembangunan kelas baru di sekolahnya tersebut tak kunjung terwujud. Adapun, ruang perpusatakaan yang dipakai siswa belajar secara lesehan berukuran sekitar 9×7 meter. Sebanyak 19 siswa kelas II terpaksa belajar tanpa alas apapun di lantai. Kondisi ini sering dikeluhkan oleh siswa dan para orang tuanya. Para siswa sering kali mengajukan protes, mengapa ruang belajarnya berbeda dengan kelas dan sekolah lainnya.”Protes dari siswa dan orangtuanya sering. Soalnya ruangannya sempit dan dingin,” kata Eti. Kondisi dinilai berimbas pada proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) setiap tahunnya. Minat calon siswa ke sekolah tersebut terus berkurang, karena telah diketahui orang banyak bahwa kurangnya kelas dan ada satu kelas belajar secara lesehan.”Demi generasi penerus bangsa terutama anak didik, kami terpaksa menggunakan ruang perpustakaan. Ada juga seorang pengawas dari dinas pendidikan melarang supaya jangan ada kursi dan meja di ruangan tersebut dan lebih baik harus dikosongkan. Jadinya belajar lesehan,” kata Eti. Sebelumnya, sempat akan diberlakukan pembagian waktu belajar pagi dan siang. Namun, menurut Eti, hampir semua sekolah dasar saat ini belajar mulai pagi. “Untuk sekarang, bagi kelas 1 memakai meja dan kursi. Sekolah juga tentu akan berupaya melakukan giliran pagi dan siang. Soalnya saya takut anak akan sakit karena masuk angin,” kata Eti.Ferbi Alis Muhammad (10), salah satu siswa kelas II yang belajar secara lesehan meminta Presiden Joko Widodo memberikan bantuan untuk sekolahnya. Ferbi mengaku tak nyaman dengan pola belajar secara lesehan. Ia selalu merasa kedinginan karena lantai tak dilapisi tikar maupun karpet. Selama mendapatkan pelajaran, Ferbi mengaku tak fokus dengan apa yang disampaikan gurunya. Sebab, saat duduk di lantai, badannya selalu terasa mual dan kakinya sering keram karena kedinginan. “Pak Jokowi tolong saya Pak dan teman-teman. Saya ingin punya kelas kayak sekolah lainnya. Saya sering masuk angin belajar sambil duduk di lantai, ya Pak Jokowi,” kata Ferbi dengan nada polos.