894 SMK Di Jawa Barat Telah Menjalin Kerjasama Dengan Pelaku Usaha

Revitalisasi lembaga vokasi atau SMK merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menyediakan SDM yang unggul, berkualitas dan memiliki daya saing dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Terdapat beberapa aspek yang akan menjadi perhatian dari Pemprov Jabar dalam melakukan revitalisasi ini seperti aspek kelembagaan, kurikulum hingga kerjasam dengan pihak swasta dan industri guna dapat menyalurkan para lulusan SMK ini. Selain itu, terdapat juga program magang dari guru yang dilakukan untuk memenuhi kualifikasi guru produktif dan kompeten terutama guru tamu dari praktisi.

“Dengan begitu sekolah vokasi dapat meningkatkan SDM dan kompetensi yang mereka miliki dengan lembagai sertifikasi profesi, tidak cukup dengan hanya mengandalkan ijazah. Kompetensi adalah hal yang penting dan akan didapatkan melalui sertifikat kompetensi,” kata Kadis Pendidikan Provinsi Jabar, Dewi Sartika.

Dewi mengatakan bahwa penyelarasan kurikulum SMK dengan kebutuhan pihak pencari pekerja adalah langkah kerja kolaboratif yang dilakukan oleh SMK di Jawa Barat, Dinas Pendidikan, Kementerian Pendidikan, Kementerian Perindustrian, Kemenko Perekonomian dan lembaga terkait lainnya sesuai dengan Inpres No. 9 tahun 2016.

894 SMK Di Jawa Barat Telah Menjalin Kerjasama Dengan Pelaku Usaha
894 SMK Di Jawa Barat Telah Menjalin Kerjasama Dengan Pelaku Usaha

Pada tahun 2018, Pemprov Jawa Barat telah melakukan pilot project keahlian kopi di SMK PPN Tanjungsari sebagai contoh untuk melakukan “link and match” ketika kopi asli Jawa Barat menjadi tren di dunia. Setelah itu, keahlian teh di SMK Negeri 13 Garut dan keahlian Kriya Logam di SMK Negeri 3 Tasikmalaya.

Sejauh ini telah ada 894 SMK di Jabar yang menjadlin kerjasama dengan industri atau pelaku usaha. Hal ini merupakan upaya untuk menyesuaikan kurikulum dengan pihak industri. Pemprov sendiri pun telah menyelarasakan kurikulum 34 kompetensi keahlian sehingga dapat sesuai dengan kebutuhan industri saat ini.

Hal ini bertujuan untuk menghasilkan kelas industri dengan pembelajaran berbasis teaching factory. Pada bidang lainnya, Dinas Pendidikan telah berkoordinasi dengan dinas lainnya seperti Pariwisata dan Kebudayaan, Perikanan dan Kelautan, Kehutanan dan Perkebunan untuk penyelarasan kurikulum di SMK.

“Tujuannya adalah untuk menghasilkan lulusan SMK yang yang memang sesuai dengan kebutuhan industri. Salah satu caranya adalah dengan seluruh SMK menjalin kemitraan strategis dengan pihak industri dan usaha. Ada anak-anak yang magang di tempat industri termasuk guru-gurunya dan profesional industri yang menjadi instruktur di sekolah dan program industri yang hadir ke sekolah,” kata Dewi.

Jawa Barat sejauh ini telah memiliki 2.950 SMK yang dimana 9,6 persen diantaranya adalah SMK negeri dengan kurang lebih 110 kompetensi keahlian. Hal ini adalah peluang serta potensi yang cukup strategis untuk dapat bekerjasama dengan dunia industri dan usaha.

Salah satu contoh kerjasama adalah kerjasama di bidang otomotif dimana sekolah bekerjasama dengan PT Astra Tbk. Di Jabar terdapat sekitar 735 SMK membuka teknik kendaraan ringan akan tetapi di tahun 2019 baru 360 yang menjalin kerjasama dengan PT Astra dan selebihnya ditargetkan pada tahun 2022 semua SMK otomotif dapat bekerjasama dengan PT Astra ataupun perusahaan otomotif lainnya. Model kerjasama yang dimiliki adalah penyelarasan kurikulum, pelatihan guru, peningkatan sarana prasana disertai dengan alih teknologi dan teaching factory,” kata Dewi.

Dengan adanya revitalisasi dari SMK, Dewi yakin pada 2022 tingkat keterserapan dari lulusan SMK oleh dunia usaha akan menjadi 80 persen. Sisanya akan melanjutkan ke jenjang berikutnya ataupun menjadi seorang wirausahawan dengan membuka usaha sendiri. Untuk dapat mendorong hal tersebut tengah disusun Pergub mengenai revitalisasi SMK di Provinsi Jawa Barat sekaligus Pergub SMK mengenai Badan Layanan Umum Daerah.

“Kita mengharapkan sekitar 80 persen lulusan SMK dapat terserap oleh dunia kerja pada 2020 nanti. 15 persen menjadi wirausahawan baru dengan keahlian yang dikuasai sedangkan sisanya akan melanjutkan ke pendidikan berikutnya. Kita sebut ini adalah BMW yaitu Bekerja, Melanjutkan dan Wirausaha,” jelasnya.