Idaho Lottery Merayakan Ulang Tahun Ke-30 Dengan Memberikan Kontribusi Ke Sektor Pendidikan

Tiga puluh tahun berlalu semenjak pertama kali menjual tiket di Idaho Capitol, Idaho Lottery akhirnya kembali ke Idaho Statehouse sekaligus menjadi penyerahan dividan terbesar dalam sejarah operator lotere dan togel di Idaho tersebut kepada pemerintah negara bagian.

Gubernur Brad Little mewakili penduduk Idaho menerima penyerahan dividen tersebut secara simbolik yang dimana mencapai 60 juta dollar AS pada perayaan di State Capitol. Tahun ini merupakan tahun dimana tahun dimana pendapatan dari operator lottere dan togel terpercaya Idaho Lottery mencatatkan rekor penjualan.

Direktur Idaho Lottery Jeff Anderson dan juga Komisi Lotere Idhao yang mendampingi Gubernur Little pada penyerahan dividen tersebut. Secara total, dari 30 tahun beroperasi Idaho Lottery telah berkontribusi sebesar 906 juta dollar AS terhadap pendanaan untuk Dana Pembangunan Sekolah Dari Departemen Pendidikan Idaho, Dana Punggutan Obligasi Departement Pendidikan dan Dana Pembangunan Permanen Negara Bagian Idaho.

Idaho Lottery Merayakan Ulang Tahun Ke-30 Dengan Memberikan Kontribusi Ke Sektor Pendidikan
Idaho Lottery Merayakan Ulang Tahun Ke-30 Dengan Memberikan Kontribusi Ke Sektor Pendidikan

“Selama 30 tahun, Idaho Lottery telah memastikan bahwa permainan yang mereka miliki dan operasikan telah memenuhi semua ketentuan keadilan, akuntabilitas dan juga integritas,” kata Gubernur Little.

“Idaho Lottery telah berkomitmen untuk membuat kontribusi yang signifikan pada bidang pendidikan disetiap level dengan menyediakan pendanaan pada proyek yang krusial yang dimana meningkatkan keamanan dari peserta didik dan mempromosikan prestasi dibidang pendidikan.”

Semenjak 1989, Idaho Lottery telah mencatatkan penjualan mencapai 3,9 miliar dollar AS. Pada retailer yang berjumlah 1.200 retailer serta agen tulis togel mendapatkan 232,7 dollar AS dalam bentuk komisi.

Selama 11 kali dari 12 tahun terakhir dan 8 tahun berturut-turut, Idaho Lottery berhasil mencatatkan perjualan yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Pada tahun ini, Idaho Lottery berhasil membukukan penjualan 287,9 juta dollar AS.

Ketika perayaan, Gubernur Little juga menghadiahkan Inspektur dari Layanan Publik Sherri Ybarra dengan 37,5 juta dividen. Angka tersebut dibagi untuk 22,5 juta dollar AS untuk Dana Pembangunan Sekolah Department Pendidikan Idaho dan sisa 15 juta dollar AS untuk Dana Punggutan Obligasi. Semenjak didirikan, Idaho Lottery telah berkontribusi lebih dari 504 juta dollar AS untuk mendukung pendidikan publik di Idaho.

“Setiap tahun, para murid dan guru diseluruh negara bagian mendapatkan keuntungan dari proyek peningkatan sekolah yang didanai oleh Idaho Lottery,” kata Inspektur Layanan Publik Sherri Ybarra.

“Tahun ini tidak hanya berarti dividen yang diberikan memecahkan rekor akan tetapi juga mencatatkan sejarah bahwa kontribusi yang diberikan telah melebihi 500 juta dollar AS.”

Gubernur Little juga menghadikan Cindy Bateman, Wakil Ketua Dari Dewan Penasehat Dana Pembangunan Permanen dengan dividen mencapai 22,5 juta dollar AS. Ini merupakan dana terbesar yang pernah diterima oleh Dana Pembangunan Permanen. Semenjak tahun 1989, Idaho Lottery ini telah mendistribusikan dana sebanyak 305,6 juta dollar AS kepada badan ini.

“Idaho Lottery telah menjadi rekan yang berarti untuk merawat, menjaga dan mengembangkan bangunan publik di Idaho dan fasilitas yang dioperasikan oleh negara bagian selama 30 tahun,” kata Bateman.

“Lotere dan togel ini membantu kami untuk memperbaiki bangunan historis di Idaho setiap tahun nya, menyediakan lingkungan kerja yang aman untuk para pekerja dan meningkatkan kualitas dari kampus dan perguruan tinggi di Idaho.”

Idaho Lottery akan merayakan 30 tahun uang tahunnya dengan mencatatkan 4 rekor pada tahun fiskal 2019. Sebagai tambahan dari rekor kontribusi yang diberikan dan penjualan, operator lotere dan togel terpercaya ini juga mencatatkan rekor untuk hadiah yang dibayarkan kepada para pemain yang mencapai 190 juta dollar AS dan komisi yang didapatkan oleh para agen togel dan lotere pada tingkat retail yang mencapai 16,6 juta dollar AS.

DPRD Riau Dukung Rencana Pendidikan Gratis Untuk Siswa SMA Kurang Mampu

Gubernur Riau, Syamsuar berencana untuk menggratiskan biaya Sekolah tingkat Menengah Atas atau SMA dan Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK untuk anak-anak yang kurang mampu yang ada di Bumi Lancang Kuning pada tahun 2020.

Program pendidikan gratis ini diwacanakan akan menjadi prioritas utama dari pemerintah provinsi untuk tahun depan. Salah satu yang akan dilakukan untuk merealisasikan program ini adalah dengan menambah Biaya Operasional Daerah atau Bosda yang akan digunakan untuk menutupi uang komite yang selama ini menjadi salah satu persoalan utama pada sistem pendidikan di Riau.

DPRD Riau Dukung Rencana Pendidikan Gratis Untuk Siswa SMA Kurang Mampu
DPRD Riau Dukung Rencana Pendidikan Gratis Untuk Siswa SMA Kurang Mampu

Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi V DPRD Provinsi Riau, Arnita Sari mengatakan bahwa parlemen siap mendukung program tersebut karena merupakan program yang pro rakyat.

“Kita sangat setuju dengan program ini karena pendidikan ini adalah hak untuk semua dan di Riau itu memang masih banyak anak-anak yang kurang mampu untuk dapat memperoleh pendidikan yang layak,” jelas Arnita Sari.

Akan tetapi, Politisi PKS tersebut mengaku bahwa wacana dari pemerintah provinsi ini belum dibahas di DPRD antara unsur pemerintah provinsi yaitu Dinas Pendidikan dengan Komisi V yang menangani bidang pendidikan.

“Pertemuan dengan Dinas Pendidikan hanya sebatas silahturahmi akan tetapi nanti akan kita bahas lebih jauh. Kalau untuk anggaran itu kita semua yakin bahwa pemerintah pasti sudah menyiapkan strateginya,” jelasnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Syamsuar memastikan bahwa program pendidikan gratis untuk SMA dan SMK ini akan menjadi prioritas pemerintahannya di tahun depan termasuk dengan melakukan penggantian uang komite dengan uang dari pemerintah provinsi.

“Nantinya uang Bosda ini ditambah lagi untuk menutupi kekurangan pada uang komite. Supaya nanti tidak memberatkan daerah,” jelasnya.

Forum Rektor Indonesia Dukung Pengaturan Perguruan Tinggi Dibawah Nadiem Makarim

Ketua Forum Rektor Indonesia terpilih periode 2020-2021 Arief Satria mengatakan bahwa pihaknya mengapresiasi keputusan dari Presiden Jokowi terkait pengaturan perguruan tinggi yang kembali dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dari yang sebelumnya di Kementerian Riset dan Teknologi.

Arief menilai bahwa hal ini akan baik untuk membangun karakter yang memang harusnya dimulai dari tingkat pendidikan awal.

“Saya menyambut dengan baik karena pendidikan tinggi dan pendidikan dasar ataupun menengah haruslah terintegrasi dan saling terhubung,” kata Arief.

“Apalagi kita sedang dalam proses membangun karakter generasi muda yang berkualitas dan memiliki daya saing tinggi. Oleh karena itu, hal ini tidak akan terlepas dari pembangunan karakter siswa pada level pendidikan dasar, menengah pertama dan atas,” lanjutnya.

Forum Rektor Indonesia Dukung Pengaturan Perguruan Tinggi Dibawah Nadiem Makarim
Forum Rektor Indonesia Dukung Pengaturan Perguruan Tinggi Dibawah Nadiem Makarim

Arief kemudian menjelaskan proses yang harus dilakukan ketika menempuh pendidikan dasar dan menengah yang akan sangat mempengaruhi pembangunan karakter murid di masa yang akan datang.

Terkait dengan latar belakang Menteri Pendidikan Nadiem Makarim yang dikenal sebagai seorang enterpreneu dan pendiri sekaligus mantan CEO Go-Jek yang lebih banyak menghabiskan waktu pendidikannya di luar negeri, Arief mengaku bahwa hal tersebut tidaklah menjadi masalah.

Menurutnya, Nadiem merupakan figur yang tepat dengan pendidikan di masa kini yang sangat mengedepankan faktor penguasan teknologi. Dirinya yakin bahwa Nadiem akan dapat memberikan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam dunia pendidikan.

“Sosok Nadiem menurut saya itu sangat cocok untuk mengubah pendidikan pada era 4.0 ini. Beliau merupakan orang yang dapat berpikir out of the box dan diera seperti ini dibutuhkan orang yang seperti Nadiem,” jelasnya.

Selain itu, Arief juga menganggap bahwa Nadiem akan berguna bagi kebutuhan di masa depan. Dengan latar belakang sebagai founder startup terbesar asal Indonesia, Go-Jek, dirinya yakin bahwa Nadiem dapat menciptakan solusi untuk berbagai permaslaahan yang akan datang.

“Nadiem memiliki kemampuan untuk menerawan masa depan. hal ini penting untuk dapat diturunkan pada level kebijakan dan program sehingga nantinya program yang disusun hari ini dapat digunakan untuk kebutuhan masa depan,” tambahnya.

Nadiem Makarim dipilih oleh Presiden Joko Widodo sebagai pengganti dari Muhadjir Effendi untuk posisi Mendikbud. Muhadjir Effendi sendiri dipromosikan menjadi Menko PMK.

Melihat dan mempelajari agenda pendidikan untuk masa depan yang cerah

Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development 2018 berjudul The Future of Education and Skills Education 2030 memaparkan beberapa kapabilitas yang perlu dikokohkan ke personal anak-anak. Pertama, rasa ingin tahu, imajinasi, daya tahan, dan kemampuan mengatur diri secara mandiri. Kedua, kemampuan menghormati, menghargai gagasan, perspektif, dan nilai-nilai orang lain. Ketiga, kemampuan mengatasi kegagalan dan penolakan. Keempat, kemampuan bergerak maju untuk menghadapi beragam kesulitan.Kemampuan-kemampuan tersebut harus dapat diaplikasikan oleh siswa dalam berbagai situasi dan kondisi. Kapabilitas tersebut perlu diinternalisasikan sehingga menjadi inheren dalam diri anak-anak bangsa. Meskipun demikian, berbagai kapabilitas yang coba diinternalisasikan di ruang pendidikan tersebut juga perlu diimbangi dengan semangat pendidikan yang responsif terhadap lokalitas kultural dan alam Nusantara yang sangat kaya.Kita semua mafhum, masyarakat Indonesia memiliki beragam adat dan alam yang kaya. Dari situ beragam pengetahuan dibangun sebagai mekanisme survival menghadapi alamnya masing-masing. Begitu banyak stock of knowledge yang berserakan di masyarakat yang sesungguhnya dapat menjadi mutiara yang begitu bagus untuk dipelajari anak-anak.Tetapi, pendidikan di negeri ini, terutama pendidikan formal, sangat kurang porsinya dalam mengakomodasi keragaman pengetahuan atau sering disebut kearifan lokal yang terserak di masyarakat tersebut. Bahkan dalam tensi yang paling buruk, pendidikan di persekolahan (pendidikan formal) cenderung mendegradasi pengetahuan anak-anak tentang lingkungan alam dan sosial budayanya.Perubahan paradigma dalam pembangunan pendidikan di negeri ini menjadi hal yang niscaya. Apalagi masih lazim kita temui di berbagai tempat yang masih memposisikan anak sebagai objek bukan sebagai subjek pendidikan. Menempatkan mereka sebagai gelas kosong yang harus diisi pengetahuan sebanyak-banyaknya tanpa melihat realitas faktual di sekitarnya. Lembaga pendidikan baik formal, non-formal, dan informal harus mengubah cara pandang.Dalam konteks Indonesia, pendidikan yang memperhatikan kondisi global tetapi tetap menghargai pengetahuan-pengetahuan lokal yang begitu kaya dan terserak di Nusantara perlu diarusutamakan.Secara praktikal, memang sulit sekali untuk mengkoneksikan dunia pendidikan, khususnya persekolahan formal, dengan kondisi alam dan sosial budaya masyarakat. Jika pendidikan berbasis kearifan lokal yang hidup di masyarakat sifatnya problem solving dan membuat mereka mampu bertahan untuk menaklukkan alam, di sekolah justru anak-anak dijauhkan dari situasi tersebut.Anak seringkali dipacu untuk belajar sesuatu yang begitu berbeda dengan realita kesehariannya. Orientasi persekolahan menuju ke modernitas dan menjauh dari alam. Padahal di banyak tempat di Indonesia situasi alam dan lingkungan kultural merupakan sumber pembelajaran terbaik yang justru dipinggirkan. Kondisi yang menunjukkan seolah ada benteng yang memisahkan dunia persekolahan dengan alam sekitar.Indonesia yang begitu kaya alam dan sosio-kulturalnya membutuhkan pendidikan yang memberikan keleluasaan anak didik berkembang berdasar potensi diri dan alam di sekitarnya. Lembaga pendidikan sepatutnya tidak membawa anak-anak menjauh dari jati diri kultural, alam, dan sosialnya. Apalagi Indonesia begitu beragam baik dari situasi geografis, kultural, agama, ataupun kelas sosialnya.

Perubahan pola pikir yang menggunakan “Gadget” untuk bekerja

Akhir-akhir ini banyak orangtua cemas melihat anak mereka asyik main gawai berjam-jam.Membuat batasan durasi waktu merupakan cara yang biasanya diterapkan agar anak tidak kecanduan gadget. Sebenarnya cukup beralasan jika orangtua membuat batasan penggunaan gadget seperti itu karena kebanyakan masyarakat termasuk anak-anak masih memanfaatkan gadget hanya untuk bermain ketimbang membuat sesuatu yang kreatif.Selama ini masyarakat Indonesia lebih banyak menjadi konsumen teknologi dan belum menjadi inovator atau pencipta. Tetapi,sangat disayangkan yang sering kita temui justru banyak anak dan orangtua sama-sama tidak tahu bagaimana caranya menggunakan gawai secara benar. Salah satunya melalui aplikasi-aplikasi pemrograman yang memungkinkan anak merancang sebuah perangkat lunak sederhana.Mereka akan kecanduan (gawai), tetapi dengan perspektif yang baru, yaitu produktif menciptakan sesuatu. Hal yang perlu kita lakukan di sini adalah mengubah pola pikir anak-anak yang sebelumnya adalah pengguna aplikasi menjadi pencipta aplikasi. Perubahan pola pikir menjadi langkah awal dalam menyambut Revolusi 4.0.Melalui perubahan pola pikir, anak-anak pada akhirnya akan mencoba mencari aktivitas lain selain bermain gadget karena mereka menggunakan gadget untuk bekerja. Penggunaan gadget untuk bekerja akan membawa sikap bosan pada anak jika gadget juga dipakai untuk bermain. Oleh karena itu, menyambut Revolusi 4.0 yang didengungkan oleh Presiden Jokowi dapat dijawab dengan langkah pertama mengubah pola pikir anak yang sebelumnya hanya pengguna aplikasi dan program-program yang ada di gadget dan komputer menjadi pencipta aplikasi dan program.Dengan menciptakan aplikasi dan program baru, anak menemukan bahwa gadget juga mampu menciptakan sesuatu. Selain itu, pengenalan gadget kepada anak-anak sangatlah penting mengingat kebanyakan pekerjaan pada zaman sekarang dengan penghasilan layak selalu bersinggungan dengan penggunaan teknologi tinggi. Oleh karena itu, tidak dianjurkan jika sikap orangtua melarang penggunaan gadget untuk anak-anak. Hal itu justru menjadi penghalang bagi mereka untuk dapat mengikuti perkembangan zaman dan sulit untuk bersaing dengan negara-negara lain.Melarang penggunaan gadget akan mengurangi improvisasi mereka dalam menciptakan sesuatu. Keberhasilan negara-negara maju menguasai pasar dunia karena mereka mampu menguasai teknologi mutakhir. Bukan hanya itu, perusahaan-perusahaan start-up juga tumbuh menjamur di negara-negara maju. Oleh karena itu, tidak salah jika kita memulai mengenalkan gadget kepada anak-anak asalkan kita mampu mengarahkan mereka untuk menggunakannya secara positif.

Melalui Program GSMS, Para Seniman Mengajar Di SD Kabupaten Purbalingga

Pegiat film yang tergabung dalam Cinema Lovers Community Purbalingga selama ini dikenal sebagai salah satu pihak yang sering mendampingi siswa SMA untuk proses pembuata film. Bagaimana jika mereka ditantang untuk mendidik anak-anak di Sekolah Dasar?

Tantangan tersebut menjadi pengalaman yang tidak terlupakan oleh tiga anggota CLC Purbalingga, Bowo Leksono, Padmashita Kalpika Anindyajati dan Nur Muhammad Iskandar. Mereka bertiga terjung untuk menjadi pendidik siswa SD Negeri I Sangkanayu Kecamatan Mrebet, SD Negeri 1 Karangcegak Kecamatan Kutasari dan SD Negeri 1 Makam Kecamatan Rembang melalui gerakan Gerakan Seniman Masuk Sekolah 2019.

Bowo menjelaskan bahwa mengajari film untuk anak-anak SD merupakan sebuah tantangan yang baru untuknya. Hal ini disebabkan, mereka lebih terbiasa memberi materi produksi film untuk para remaja dan anak setingkat SMP dan SMA.

Walaupun begitu, dirinya mengaku bahwa keinginan untuk memberikan pengetahuan akan film kepada siswa SD merupakan cita-citanya sejak lama. Akhirnya hal itu dapat tercapai ketika Direktorat Kesenian pada Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan program Gerakan Seniman Masuk Sekolah.

Melalui Program GSMS, Para Seniman Mengajar Di SD Kabupaten Purbalingga
Melalui Program GSMS, Para Seniman Mengajar Di SD Kabupaten Purbalingga

“Film untuk dapat masuk SD sudah menjadi keinginan lama kami. Kebetulan ada program dari pemerintah pusat jadi kami mengambil bagian seperti gayung bersambut,” jelas Direktur CLC Purbalingga.

Bagian tersulit bagi para penggiat film ini adalah ketika menjelaskan materi baik itu teori ataupun praktik karena mereka harus mengubah cara berkomunikasi dengan bahaya yang dapat dipahami oleh anak-anak yang berusia antara 10 hingga 12 tahun.

“Kami harus melakukan perulangan beberapa kali supaya mereka dapat paham. Tetapi, semangat mereka untuk belajar itu membuat kami dapat terus berkomitmen untuk melatih tanpa henti,” jelasnya.

Padmashita menambahkan bahwa mengajar siswa SD dibutuhkan kesabaran. Selain itu, dirinya juga wajib membuat anak-anak itu tetap nyaman ketika proses pembuatan film.

“Anak-anak tingkat SD ini kan masih berpikir main ya sehingga kami harus menyesuaikan dengan keadaan yaitu bagaimana kami dapat membuat film dengan cara bermain akan tetapi tetap serius sehingga hasilnya juga maksimal,” ujarnya.

Meski sempat mendapatkan kesulitan, Bowo mengaku bahwa dirinya puas dengan hasil yang diperoleh ini. Sejauh ini, program GSMS ini berhasil memproduksi 15 vlog, video jurnalisme warga, dokumenter sederhana hingga fiksi pendek. Pada akhir program di Purbalingga, karya anak-anak SD ini akan ditayangkan bersama dengan karya seni lainnya sehingga dapat ditonton oleh masyarakat mulai 2019 yang akan datang.

“Walaupun masih anak-anak, mereka ini cepat untuk menguasai teknologi. Tinggal bagaimana kami mengarahkan kemampuan mereka untuk terwujud sebagai sebuah karya yang dapat dinikmati dan berguna untuk orang banyak,” jelas Bowo.

Program GSMS di Purbalingga ini dilaksanakan dibawah pengawasan dari Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemkab Purbalingga. Dari 30 seniman, terdapat 21 seniman yang berasal dari berbagai latar belakang seperti seni lukis, tari, musik tradisi, musik kontemporer, teater, film dan sastra.

Para seniman ini diterjunkan di 21 sekolah yaitu 12 untuk SMP dan 9 untuk SD yang tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Purbalingga. Program ini berlangsung sekitar tiga bulan dalam bentuk edukasi kesenian hingga kegiatan ekstrakulikuler di sekolah sebanyak 27 kali pertemuan.

MSW Global Rayakan Pendidikan Nasional bagi Generasi Milenial

2 Mei 2018 adalah Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), hari yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia untuk memperingati kelahiran Ki Hadjar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan di Indonesia dan pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa. Meskipun bukan hari libur nasional, Hari Pendidikan Nasional dirayakan secara luas di Indonesia.Tahun ini Hardiknas dirayakan secara berbeda. Kemenristek DIKTI bekerja sama dengan MSW Global menggelar “World Post Graduate 2018”, di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, 12-13 Mei 2018.Pameran yang terbuka untuk umum tanpa biaya tiket masuk ini menargetkan para pelajar yang ingin melanjutkan pendidikannya ke program pascasarjana.Selain pemerintah, Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) turut serta mensukseskan acara ini.Organisasi profesi dosen terbesar di Indonesia yang berdiri sejak 1998 ini memberikan dukungan penuh dalam pengembangan wawasan masyarakat Indonesia, khususnya kaum milenial, untuk mengembangkan karier dan potensi akademik kejenjang S2 dan S3. Acara yang disponsori oleh Cleo dan Garuda Indonesia ini turut menyediakan rangkaian kegiatan bagi pimpinan perguruan tinggi, seperti “International Education High Meeting”, yang memberikan kesempatan kepada pimpinan perguruan tinggi Indonesia untuk berdiskusi langsung dengan perwakilan pimpinan perguruan tinggi asing dan kedutaan besar, lembaga pendidikan resmi dari berbagai negara.Selain mendatangkan lebih dari 50 universitas terkemuka di dunia, World Post Graduate pun menyediakan panel diskusi terbuka dengan tema “Millenial Berkarir”. Diskusi ini dimoderatori oleh Taufan T. Akbari, Dekan Fakultas Bisnis LSPR dan Founder dari Rumah Millennials.Diskusi terbuka ini terbilang menarik, karena membahas isu-isu terkait karie dan pendidikan bagi generasi milenial, sepertipengaruh teknologi masa kini terhadap peluang kerja generasi millenial di Indonesia, tantangan kerja, dan urgensi pendidikan pascasarjana untuk generasi milenial.“Apa yang ada di sini sebenarnya melebihi ekspektasi saya. Tidak menyangka, ternyata anak-anak ini antusias mengejar pendidikan. Saya berharap, semangat anak-anak muda ini tidak berhenti sampai sini saja,” ujar Anastasia Sri, Operational Director dari MSW Global.Hal yang sama pun juga dikemukakan Michael Tan, Director MSW Global. Menurutnya, pada dasarnya acara ini dibuat karena kepedulian MSW Global terhadap pendidikan anak di Indonesia.

Pendidikan Merata dan Berkualitas Jadi Prioritas 2019

Wakil Ketua Komisi X DPR,Sutan Adil Hendra (SAH) mengucapkan “Selamat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2019″. Dalam momentum ini ,tokoh yang akrab disapa SAH itu mengatakan, tantangan dunia pendidikan ke depan adalah mewujudkan pendidikan yang merata dan berkualitas.”Pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan masih menjadi tantangan yang harus terus dilakukan dalam skala prioritas program secara nasional,” ujarnya, melalui rilis yang diterima Parlementaria, Jakarta, Kamis sore.

Untuk mewujudkan pemerataan dan kualitas pendidikan, SAH mengaku, DPR telah mengajak semua stakeholder terkait untuk melakukan reformasi pendidikan nasional, baik dalam tataran konseptual maupun manejerial.“Dalam tataran konseptual, sekarang sedang diupayakan agar karakter menjadi fondasi pendidikan nasional, karena kualitas yang ingin dicapai harus berorientasi pada pembentukan karakter jenjang pendidikan dasar secara merata di semua wilayah Tanah Air,” jelasnya.Lebih lanjut SAH mengatakan, reformasi pendidikan dilakukan demi terwujudnya pembangunan pendidikan yang dapat mengantar bangsa dan negara pada kejayaan di masa depan.
“Karakter yang kuat akan menjadi fondasi yang kokoh bagi peserta didik masa kini, kemudian disempurnakan dengan penguasaan berbagai keterampilan hidup, vokasi, dan profesi abad 21,” ungkap anggota Fraksi Partai Gerindra tersebut.Saat ini menurut SAH, pemerintah dan DPR terus mengupayakan penyelarasan, kebudayaan dengan pendidikan. Hal tersebut ditempuh untuk menghadirkan proses pembelajaran yang terbuka, luwes, dan memberikan keleluasaan bagi para pelajar.“UU Pemajuan Kebudayaan dan juga UU Sistem Perbukuan telah disahkan. Produk legislasi ini diharapkan dapat mendukung reformasi pendidikan nasional yang digulirkan pemerintah,” jelasnya.Menurutnya, kebudayaan telah menjadi akar dari pendidikan. Oleh karenanya, UU Pemajuan Kebudayaan menjadi acuan dalam upaya pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan agar budaya Indonesia dapat tumbuh tangguh menghadapi arus perubahan.
Adapun UU Sistem Perbukuan memiliki peran strategis bagi pemerintah dalam upaya meningkatkan daya literasi masyarakat, khususnya peserta didik. Sistem perbukuan yang baik diharapkan akan menumbuhkembangkan budaya literasi yang semakin baik.“Pemenuhan budaya literasi dapat didorong dan dikembangkan melalui ketersediaan buku yang bermutu, murah atau terjangkau, dan merata, yang pada akhirnya akan mendorong pemerataan dan peningkatan kualitas Pendidikan. Di sinilah titik evaluasi dalam peringatan hari pendidikan nasional,” tandasnya.

Biaya Kuliah di AS Tinggi, Mahasiswa Asing Kian Lirik Negara Lain

Biaya kuliah di AS tinggi,mahasiswa asing Kian Lirik Negara Lain.Meski jumlah mahasiswa asing yang kuliah di Amerika Serikat mengalami kenaikan stabil, namun belakangan karena karena biaya-biaya lainnya yang makin tinggi, belum lagi masalah imigrasi, hingga wacana politik yang memecah-belah membuat banyak mahasiswa asing kini mempertimbangkan pilihan lain.Banyak mahasiswa asing kini dinilai mulai melirik negara-negara lain yang kini bersaing ketat dengan Amerika, termasuk Kanada, Australia, Selandia Baru, negara-negara Eropa, dan bahkan China.Negara-negara itu menyediakan berbagai kemudahan yang membuat mahasiswa internasional merasa lebih nyaman belajar dengan biaya yang lebih murah.“Bukan rahasia lagi bahwa dibandingkan dengan negara-negara lain, biaya pendidikan tinggi di Amerika Serikat secara signifikan jauh lebih tinggi,” kata Fanta Aw, Wakil Presiden di American University, Washington D.C, Namun, tingginya biaya kuliah bukanlah satu-satunya faktor yang menjadi alasan.Sebuah studi oleh Institute for International Education, sebuah lembaga pendidikan internasional, merujuk pada anggapan mengenai kejahatan di Amerika dan wacana politik yang kontroversial terhadap para imigran.Menurut Bachtiar Romadhoni Asral, seorang mahasiswa berasal dari Indonesia, hal tersebut juga menjadi perhatian utamanya.“Sebenarnya ini menjadi perhatian utama saya, karena latar belakang saya adalah orang Indonesia, Asia, dan Muslim. Penampilan saya juga berbeda, sehingga orang dapat mengatakan bahwa saya dari luar Amerika. Ini akan menjadi situasi yang menantang bagi saya untuk beradaptasi di Amerika Serikat, meskipun pada awalnya saya pikir itu bukan masalah karena saya merasa bahwa Amerika itu berpikiran terbuka,” kata Bachtiar seperti mengutip VOAIndonesia.Sementara negara-negara lain, seperti Kanada, dipandang oleh sebagian calon mahasiswa internasional lebih bersahabat. Biro Pendidikan Internasional Kanada berusaha menarik para mahasiswa dari Tiongkok, India, Filipina, Vietnam, dan Pakistan dengan menawarkan visa yang memerlukan waktu hanya tiga minggu untuk pemrosesannya.“Kami telah menemukan bahwa berdasarkan statistik yang kami miliki, ini adalah negara-negara yang paling tertarik mengirimkan mahasiswa mereka ke Kanada,” kata Wakil Duta Besar Kanada untuk Amerika Serikat Kirsten Hillman.Walaupun jumlah mahasiswa internasional di Kanada lebih sedikit daripada di Amerika, mereka yang menempuh studi lanjut di Kanada mendapati jalur imigrasi mereka membuahkan hasil yang didambakan, seperti yang dialami oleh Masroor Khan, lulusan Universitas Manitoba di Kanada.“Setelah lulus sarjana, saya mendapat izin kerja tiga tahun, yang juga disebut sebagai izin kerja pascasarjana, dan saya melamar pekerjaan. Saya direkrut di sebuah perusahaan akuntansi. Di sana saya bekerja purna waktu selama satu tahun sehingga saya memenuhi syarat untuk mengajukan permohonan menjadi penduduk permanen,” kata Masroor.

Kemampuan Kolaborasi Jadi Aspek Penting Pertunjukan Teater

Kemampuan berkolaborasi dan bekerja sama menjadi aspek yang penting dalam penilaian Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2019.Juri teater FLS2N jenjang SMK, Rita Matu Mona mengatakan, pemain harus terlihat kompak saat pertunjukan. Kemampuan bekerja sama di dunia teater berdampak pada kehidupan di luar panggung, termasuk budaya toleransi.”Di teater, mereka harus bekerja sama. Itu penting untuk pembentukan karakter siswa,” ujarnya, di Auditorium RRI Lampung, Selasa sore.Rita yang memiliki latar belakang Teater Koma itu menuturkan, teater mengajarkan dirinya tentang menjalin hubungan dengan orang lain, karena prinsip kerja teater adalah teamwork atau kerja tim.”Ketika kita bekerja sama, ego kita harus ditekan. Kita tidak boleh menjadi bintang sendiri, tapi lawan main kita, atau grup kita juga menjadi bintang bersama, saling mendukung,” tutur perempuan yang sudah ikut dalam 150 naskah teater itu.”Ketika kita lagi berlatih, misalnya lawan main yang antagonis terlalu emosional, lalu kita berdiskusi. Itu mengajarkan kita secara psikologis, sehingga ketika kita bekerja sama dengan orang lain, maka kita harus bisa menekan ego supaya orang lain juga muncul,” ujarnya.Rita menjadi juri Teater di FLS2N sejak tahun lalu. Menurutnya, perkembangan teater SMK cukup signifikan, dengan potensinya masing-masing.”Terjadi perkembangan yang tidak saya duga. Itu sangat menggembirakan. Kebetulan saya di Dewan Kesenian Jakarta dan berada di Komite Teater. Perkembangan teater di generasi muda dan dunia profesional itu penting untuk saya ketahui. Saya sebenarnya cukup berbunga-bunga, tapi tidak mau saya perlihatkan,” tuturnya sambil tertawa.harus bisa mengambil inspirasi dari lokalitas yang dimiliki daerahnya, sekaligus mengedukasi generasi muda, agar mencintai budaya dan keseniannya sendiri. “Mereka harus meng-create lagi, ada penciptaan di dalam hal ini. Walaupun berlatar belakang budaya masing-masing, tetap harus di-create ulang dengan pendekatan masa kini,” tambahnya.Dalam salah satu pertunjukan dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), peserta dari SMKN 3 Wonosari, Gunung Kidul, menampilkan mitos yang berasal dari daerah Gunung Kidul. Mitos itu disebut Pulung Gantung.Sutradara sekaligus pemeran dalam penampilan teater DIY, Rizkana Aisya Putri menuturkan, Pulung Gantung mengisahkan seorang anak yang putus asa karena harus menghidupi keluarganya, hingga akhirnya memilih untuk bunuh diri dengan cara menggantung diri.”Kita mengedukasi masyarakat bahwa kalau kalian punya masalah, jangan berakhir dengan bunuh diri,” ujarnya.

Banten Kebut Pemerataan SMA Keseluruh Pelosok Setelah Pemberlakuan Sistem Zonasi

Pemerataan pendidikan masih menjadi masalah penting bagi Pemprov Banten. Wakil Gubernur Banten, Andika Hazrumy mengatakan bahwa hal tersebut masih dalam proses dan akan terus digenjot kedepannya terutama untuk program pemerataan fasilitas pendidikan menengah atas hingga dapat menjangkau seluruh sudut Provinsi Banten.

Selama ini diakuinya bahwa banyak keluhan dari masyarakat mengenai perbedaan kondisi kesejahteraan hingga layanan dasar antar Banten Utara yang meliputi Tangerang hingga Cilegon dengan Banten Selatan yang meliputi Pandegland dan Lebak.

“Saat ini kami sedang mengupayakan bahwa SMA dan SMK Negeri itu minimal ada satu disetiap kecamatan. Dengan adanya sistem zonasi saat ini tentunya kebutuhkan akan sekolah negeri akan semakin meningkat sehingga membutuhkan fasilitas harus segera di penuhi. Jadi konteksnya adalah memudahkan masyarakat untuk dapat memperoleh akses pendidikan,” kata Andika.

Banten Kebut Pemerataan SMA Keseluruh Pelosok Setelah Pemberlakuan Sistem Zonasi
Banten Kebut Pemerataan SMA Keseluruh Pelosok Setelah Pemberlakuan Sistem Zonasi

Dirinya berharap bahwa jumlah partisipasi sekolah di Banten semakin bertambah. Hal ini menjadi dasar bagi pihak Pemprov untuk menganggarkan program pendidikan gratis, pembangunan fasilitas sekolah serta penambahan rombongan belajar.

Terkait partisipasi pendidikan, menurut data dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, program pendidikan gratis disebutkan telah memberikan pengaruh dalam menumbuhkan angka partisipasi murni atau APM sekola dan rata-rata lama sekolah. Disebutkan bahwa APM pada tahun 2017 tercatat sebesar 60,05 persen yang kemudian naik menjadi 62,02 persen pada tahun 2018. Demikian juga dengan rata-rata lama sekolah yang pada tahun 2017 hanya 8,53 persen menjadi 8,62 pada tahun 2018.

“Kita lihat kontesk angka partisipasi kasar atau APK pada tahun 2019 ini terutama pada tingkat SMA dan SMK telah meningkat jumlahnya. Jadi intinya adalah yang kita upayakan itu adlaah bagaimana masyarakat itu dapat memperoleh layanan pendidikan minimal 12 tahun terutama bagi mereka warga yang tidak mampu,” lanjut Andika.

Dengan Pergub 31 tahun 2018 mengenai Pendidikan Gratis, para pelajar tingka SMA dan SMK serta Sekolah Khusus Negeri dapat mengikuti layanan pendidikan gratis tanpa dipungut biaya apapun. Kebijakan Gubernur Wahidin Halim yang dimulai pada tahun lalu ini disebut memberikan dampak yang cukup besar untuk meningkatkan angka partisipasi belajar dari pelajar tingkat SMA dan SMK serta Sekolah Khusus Negeri.

Dengan pendidikan gratis ini, diharapkan dapat memberikan dampak berupa peningkatan kesejahteraan masyarakat dan untuk penguatan ekonomi wargar Banten. Partisipasi pendidikan yang semakin baik ini juga bertujuan untuk menyediakan kesempatan bagi siswa supay peluang mendapatkan pekerjaan semakin tinggi.