Bunda PAUD Buka Sosialisasi Pendidikan Keluarga Kabupaten Tanah Laut

Bunda Pendidikan Anak Usia Dini Kabupaten Tanah Laut Nurul Hikmah Sukamta membuka kegiatan sosialisasi pendidikan keluarga dan kegiatan penyelenggaraan PAUD tahun 2019 di UPTD SDN 2 Desa Bumijaya, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut.

Kegiatan ini dihadiri oleh para orang tua dan wali siswa dari TK Sinar Harapan dan SDN 2 Bumi Jaya. Kegiatan ini juga dimeriahkan oleh penampilan dari siswa-siswi SDN 2 Bumi Jaya yaitu Nasyid dan Maulid Habysi, Gerakan Berbaris dair Pramuka dari SMPN 8 Pelaihari dan senam Gerakan Nasional Membacakan Buku yang dibawakan oleh TK Sinar Harapan.

Bunda PAUD Buka Sosialisasi Pendidikan Keluarga Kabupaten Tanah Laut
Bunda PAUD Buka Sosialisasi Pendidikan Keluarga Kabupaten Tanah Laut

Nurul yang menjadi pengagas dari kegiatan ini menjelaskan bahwa peranan dari orang tua sangatlah penting untuk pembentukan karakter anak. Keluarga adalah tempat pertama dimana anak dididik sehingga akan mempengaruhi bagaimana anak akan beraktivitas, bersosialisasi dengan lingkungannya baik di sekolah dan masyarakat.

“Oleh karena itu sosialisasi pendidikan keluarga ini sangatlah penting utnuk dilakukan supaya orang tua menjadi sadar tentang pendidikan keluarga untuk anak-anak,” jelasnya.

Nurul Hikmah juga menejelaskan bahwa saat ini peran keluarga dalam menghadapi era globalisasi sangatlah dibutuhkan karena perkembangan teknologi ini telah menghadirkan ancaman seperti medsos yang dapat membahayakan anak-anak jika salah digunakan karena tidak ada batasan usia penggunaan selain juga sulitnya memantau pertemanan anak-anak di medsos.

“Maka dari itu keluarga merupakan pelindung bagi anak-anak,” tutupnya.

New Mexico Ingin Lebih Banyak Siswa Yang Mengajukan Bantuan Untuk Pendanaan Pendidikan

Petugas departemen pendidikan di New Mexico mendorong kepada lebih banyak murid tingkat SMA untuk mengajukan bantuan keuangan federal untuk membantu mereka membayar biaya pendidikan di peguruan tinggi.

Inisiatif ini diumumkan setelah Gubernur New Mexico, Michelle Lujan Grisham mengajukan program beasiswa untuk mengisi gap atau selisih antara bantuan federal dengan beasiswa yang didanai dari keuntungan permainan lotere dan judi togel sehingga dapat membuat lebih banyak orang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Jika semakin banyak siswa yang didanai oleh bantuan federal maka akan membuat mengurangi apa yang harus dikeluarkan oleh pemerintah negara bagian sehingga memiliki dana tambahan untuk program prioritas lainnya.

New Mexico Ingin Lebih Banyak Siswa Yang Mengajukan Bantuan Untuk Pendanaan Pendidikan
New Mexico Ingin Lebih Banyak Siswa Yang Mengajukan Bantuan Untuk Pendanaan Pendidikan

Petugas tersebut ingin meningkatkan rata-rata pengajuan tahunan untuk bantuan keuangan federal hingga mencapai 80 persen. Saat ini, sekitar 65 persen siswa di New Mexico telah mendaftarkan bantuan keuangan federal.

Kepala Pendidikan Publik, Ryan Stewart mengatakan bahwa mengikuti pengajuan bantuan pendidikan ini merupakan salah satu solusi utama bagi para siswa untuk dapat mendapatkan akses pendidikan, beasiswa, program pendidikan dan pinjaman federal untuk siswa. Saat ini lebih dari sepertiga siswa di New Mexico kehilangan pendanaan federal potensial yang dapat membuat biaya pendidikan di perguruan tinggi menjadi lebih terjangkau.

Dengan meningkatnya jumlah peminta, New Mexico akan membuat negara bagian tersebut memproduksi ribuan dokter, ilmuwan komputer, penulis, arsitek, perawat, artis dan guru diseluruh negara bagian.

“Ribuan siswa akan dapat merasakan pengalaman perguruan tinggi yang telah terputus karena masalah kemiskinan,” kata Stewart.

New Mexico tengah berjuang dengan biaya pendidikan yang tinggi selama beberapa tahun terakhir.

Ini memerlukan loncatan besar kedepan seperti pada tahun 1990 ketika beasiswa lotere dan judi togel dibelakukan yang mana selama hampir dua dekade berhasil menutupi 100 persen biaya pendidikan di insitusi milik negara bagian, menghapus sebagian besar biaya yang tidak sanggup dibayar oleh para siswa.

Permintaan untuk beasiswa telah meningkat dua kali lipat menjadi 17 ribu siswa dari semester musim tahun 2000 hingga musim semi 2010. Saat ini sekitar 26 ribu siswa menggunakan beasiswa ini untuk memotong biaya pendidikan yang tinggi tersebut.

Diantara 1996 hingga 2018, sebanyak 740 juta dollar AS yang berasal dari keuntungan permainan lotere dan judi togel beserta berbagai sumber pendapatan negara bagian telah diberikan untuk program yang telah membantu sebanyak 117 ribu penerima.

Analis melaporkan bahwa sekitar 56 siswa telah berhasil menyelesaikan pendidikan yang mereka miliki.

Selama beberapa tahun terakhir para pembuat undang-undang telah memaksa untuk mengurangi jumlah bantuan beasiswa yang dapat diberikan dan memperketat persyaratan untuk para siswa yang meminta bantuan pendidikan dikarenakan biaya pendidikan yang naik lebih tinggi dibandingkan oleh pendapatan yang dapat dihasilkan oleh operasi lotere dan judi togel.

New Mexico State University dan sekolah lainnya telah memulai kampaney yang agresif untuk memastikan para siswa dapat memperoleh akses ke program beasiswa ini.

Lujan Grisham mengajukan “Kesempatan Beasiswa” sebagai bagian dari perluasan bantuan negara bagian untuk mengisi selisih pada bantuan keuangan bagi pendidikan tersebut.

Pihak legislatif diwajibkan untuk menyetujui penggunaan dana umum untuk menutupi biaya beasiswa ini.

Sementara New Mexico tengah menikmati peningkatan perekonomian karena meningkatnya produksi minyak, beberapa ekonom memperingatkan negara bagian untuk hati-hati dalam menggunakan anggaran terutama untuk digunakan pada program pendidikan dan program lainnya karena program tersebut akan sangat rentan ketika terjadi penuturan pada sektor minyak dan gas bumi yang sangat mungkin terjadi.

Dana Desa Bangun Asa Pendidikan di Pelosok Kalimantan Barat

Program Dana Desa yang digagas Presiden Joko Widodo melalui Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (kemendes PDTT) untuk membangun dari pinggiran kini telah menuai manfaat. Tak terkecuali, Desa Benua Kencana, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.Meski masih sulit akses transportasi dan menempuh perjalanan hingga 2 jam 30 menit menembus hutan. Desa Benua Kencana sangat fokus terhadap dunia pendidikan. Selain digunakan untuk infrastruktur, ekonomi dan kesehatan, dana desa pun tak luput dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di desa.Menurut Kepala Desa Benua Kencana, Musmuliadi, di desa yang seluas 3.228,7 hektare ini, terdapat 2 SD, yakni SDN 26 Sungai Kura dan SDN 12 Ansok. Dana desa yang diberikan oleh pemerintah pusat pun digunakan untuk membantu mendukung Program Kinerja dan Akuntabilitas (Kiat) Guru di kedua SD tersebut.Dengan program ini guru mendapatkan tunjangan atas kinerja mereka. Sehingga tak ada lagi guru mangkir yang biasa terjadi di pelosok daerah. Malahan, guru yang berkinerja baik maka akan semakin sejahtera.”Ada anggaran untuk KIAT Guru, jadi program penilaian guru, kinerja guru, istilahnya jam kerja mereka ada tim pengawasan, jadi ada reward gitu buat guru yang kinerjanya bagus itu. Itu kita alokasikan sebesar Rp 21 juta untuk 2 SD di Desa Benua Kencana, yakni SDN 12 Ansok dan SDN 26 Sungai Kura,” ujar Musmuliadi saat ditemui detikcom di kediamannya.Yeni Oktavia salah seorang guru SDN 26 Sungai Kura pada awalnya cukup prihatin saat pertama kali datang mengajar ke Desa Benua Kencana. Sebagai guru pendatang dari Padang, wanita berhijab ini mengaku tak betah awalnya karena berada di tempat terpencil tanpa adanya sinyal untuk berkomunikasi.”Pertama kami datang ke sini agak-agak sangat sedih sekali. Tapi karena tugas datang dari Pemerintah jadi di manapun kami ditetapkan, kami tetap siap sedia,” ujarnya.
Oleh karena itu, program Kiat guru ini tentu sangat membantu untuk meningkatkan kualitas pendidikan di desa tersebut. Para guru tak perlu memikirkan kesejahteraan lagi dan fokus mengajar para siswa menjadi sosok yang berguna di masa depan, walaupun berada di pedalaman dengan segala kekurangan.”Meski begitu, di sini juga banyak yang berprestasi setelah sekolah di sini. Kan saya mengajar semua pelajaran di sini, ada juga anak-anak yang berprestasi, contohnya seperti sampai ke tingkat kabupaten itu mata pelajaran IPA, Juara III mata Pelajaran IPA se-Kabupaten Sintang kelas 5 waktu itu,” ujarnya.

Bertahun-tahun, Pelajar SD di Tasikmalaya Ini Belajar Sambil Lesehan

Belasan pelajar kelas II Sekolah dasar (SD) Negeri Cikadongdong, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya,terpaksa melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara lesehan.Mereka mendapatkan materi pelajaran tanpa dilengkapi fasilitas ruang kelas seperti kursi dan meja belajar seperti yang dinikmat siswa lain pada umumnya. Para siswa di kelas itu pun tak memiliki ruang kelas khusus. Kegiatan belajar dan mengajar yang dilakukan di ruang perpustakaan hanya menggunakan meja kecil seperti di madrasah. Selama ini, sekolah tersebut kekurangan bangunan ruang kelas. Padahal, bantuan dari pemerintah pusat dan daerah selalu gencar tiap tahunnya.Kepala SD Cikadongdong Eti Kursiasih mengatakan, sekolahnya sudah sejak 28 tahun lalu mengajukan proposal pembangunan ruang kelas baru ke Dinas Pendidikan dan ke pemerintah daerah. Namun, sampai sekarang belum ada realisasinya. “Saya masih ingat janji manis Bupati Tasikmalaya, saat itu Pak Uu Ruzhanul Ulum, pernah meninjau langsung ke sini. Tapi sampai sekarang tidak dibangun juga,” kata Eti Kursiasih. Menurut Eti, sempat beberapa kali ada petugas pengukuran yang mengaku dari Dinas Pendidikan setempat. Namun, realitas pembangunan kelas baru di sekolahnya tersebut tak kunjung terwujud. Adapun, ruang perpusatakaan yang dipakai siswa belajar secara lesehan berukuran sekitar 9×7 meter. Sebanyak 19 siswa kelas II terpaksa belajar tanpa alas apapun di lantai. Kondisi ini sering dikeluhkan oleh siswa dan para orang tuanya. Para siswa sering kali mengajukan protes, mengapa ruang belajarnya berbeda dengan kelas dan sekolah lainnya.”Protes dari siswa dan orangtuanya sering. Soalnya ruangannya sempit dan dingin,” kata Eti. Kondisi dinilai berimbas pada proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) setiap tahunnya. Minat calon siswa ke sekolah tersebut terus berkurang, karena telah diketahui orang banyak bahwa kurangnya kelas dan ada satu kelas belajar secara lesehan.”Demi generasi penerus bangsa terutama anak didik, kami terpaksa menggunakan ruang perpustakaan. Ada juga seorang pengawas dari dinas pendidikan melarang supaya jangan ada kursi dan meja di ruangan tersebut dan lebih baik harus dikosongkan. Jadinya belajar lesehan,” kata Eti. Sebelumnya, sempat akan diberlakukan pembagian waktu belajar pagi dan siang. Namun, menurut Eti, hampir semua sekolah dasar saat ini belajar mulai pagi. “Untuk sekarang, bagi kelas 1 memakai meja dan kursi. Sekolah juga tentu akan berupaya melakukan giliran pagi dan siang. Soalnya saya takut anak akan sakit karena masuk angin,” kata Eti.Ferbi Alis Muhammad (10), salah satu siswa kelas II yang belajar secara lesehan meminta Presiden Joko Widodo memberikan bantuan untuk sekolahnya. Ferbi mengaku tak nyaman dengan pola belajar secara lesehan. Ia selalu merasa kedinginan karena lantai tak dilapisi tikar maupun karpet. Selama mendapatkan pelajaran, Ferbi mengaku tak fokus dengan apa yang disampaikan gurunya. Sebab, saat duduk di lantai, badannya selalu terasa mual dan kakinya sering keram karena kedinginan. “Pak Jokowi tolong saya Pak dan teman-teman. Saya ingin punya kelas kayak sekolah lainnya. Saya sering masuk angin belajar sambil duduk di lantai, ya Pak Jokowi,” kata Ferbi dengan nada polos.

Pemerintah Rencanakan Tingkatkan Peranan Pendidikan Dasar Untuk Basmi Buta Huruf

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan bahwa pendidikan dasar memiliki peranan penting dalam memberantas buta aksara di Indonesia sehingga mengharuskan peranan dari pendidikan dasar tersebut ditingkatkan.

“Pendidikan dasar memiliki peranan yang penting dalam menciptakan generasi emas. Oleh karena itu, pendidikan dasar perlu mendapatkan porsi perhatian yang besar pula,” jelasnya ketika peringatan Hari Aksara Internasional di Makassar.

Dirinya mengatakan bahwa upaya pemberantasan buta aksara telah dilakukan sejak Indonesia baru merdeka pada tahun 1945 yang dimana pada saat itu jumlah angka buta aksara mencapai 97 persen.

Pemerintah Rencanakan Tingkatkan Peranan Pendidikan Dasar Untuk Basmi Buta Huruf
Pemerintah Rencanakan Tingkatkan Peranan Pendidikan Dasar Untuk Basmi Buta Huruf

Pada saat itu, Presiden Soekarno mencanangkan gerakan pemberantasan buta aksara dengan melibatkan partisipasi semua lapisan masyarakat. Setelah itu, Presiden Soeharto secara masif mendirikan SD Inpres untuk juga mempercepat pemberantasan buta aksara dan terbukti cukup efektif untuk menurunkan angka buta aksara.

Akan tetapi, dirinya melanjutkan bahwa saat ini kemampuan membaca, menulis serta berhitung sudah tidaklah cukup untuk memenuhi tuntutan jaman. Saat ini kemapuan tambahan lainnya seperti literasi finansial, sains hingga digital dan budaya telah menjadi bagian dari literasi dasar yang harus dapat dikuasai dan dipelajari sejak usia dini.

“peranan SD Inpres atau pendidikan dasar itu harus ditingkatkan. Tidak lagi hanya sekedar kemampuan baca, tulis dan berhitung seperti jaman dulu tapi sudah harus lebih luas lagi seperti sains, digital dan budaya,” katanya.

Jumlah penduduk buta aksara yang mencapai 97 persen ketika Indonesia baru merdeka telah turun menjadi hanya 3,4 persen pada tahun 2015.

menurut survei Sosial Ekonomi Nasional yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik atau BPS pada tahun 2018, jumlah penduduk buta aksara saat ini hanya tinggal 3,29 juta orang atau sekitar 1,93 persen dari total jumlah penduduk Indonesia.

Rumah Bimbel Jadi Bidang Pendidikan yang tak Kalah Penting

Rumah bimbingan belajar atau bimbel merupakan salah satu jenis usaha di bidang pendidikan yang kini bisa dilakukan siapa saja. Apalagi, pendidikan merupakan kebutuhan primer jangka panjang yang dibutuhkan oleh orangtua yang diperuntukkan bagi anak-anaknya.Hal itu juga yang diyakini oleh lembaga pendidikan non-formal asal Korea Selatan, Eye Level. Di sana, anak akan disuguhi materi pembelajaran tambahan seperti matematika, play math, English, English sparks dan happy talk untuk anak usia 3 hingga 15 tahun.
Menurut Marketing Executive Eye Level Indonesia, Aditiawarman, peluang bisnis bimbel tambahan adalah bisnis yang berkesinambungan, tak hanya bisnis musiman.
“Di Eye Level, hanya perlu modal lisensi Rp 5 juta sudah bisa buka Eye Level di rumah. Bisnis pendidikan juga bukan bisnis musiman, karena pendidikan akan selalu dibutuhkan dalam setiap generasi untuk masa depan anak bangsa,” kata Aditiawarman melalui rilis yang diterima Kabarberita.Ia juga menjamin pihaknya tidak akan melepas begitu saja owner yang telah membeli lisensi.
Pihak pusat akan memberikan support berupa training untuk owner dan para guru yang mengajar. “Kemudian dana marketing tahunan untuk center tersebut, kegiatan marketing dari pusat, booklet import gratis sesuai jumlah murid, serta center consultant yang akan membantu setiap Eye Level Learning Center yang sedang berjalan,” lanjut Aditiawarman.
Ia pun menambahkan bahwa bisnis di bidang pendidikan bukan serta merta mengambil untung semata. Ada tugas lain yang jauh lebih berharga. “Ini juga berperan untuk mencerdaskan para generasi bangsa untuk masa depan,” tutupnya.Eye Level memiliki tiga pilihan model bisnis, yaitu Home Class, Franchise Regular dan School Project. Saat ini Eye Level sudah memiliki lebih dari 70 learning center hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Biasakan Membaca, Pendidikan.id Luncurkan Komik Digital untuk Melawan Hoaks

Fakta menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih mudah termakan oleh berita yang belum tentu kebenarannya, dan kemudian menyebarkannya, alias hoaks.Salah satu bahaya hoaks adalah mudahnya menyulut kontroversi. Kepala Editor Trans Media, Titin Rosmasari, mengatakan, “Salah satu faktor masyarakat Indonesia mudah sekali mempercayai hoaks atau berita palsu ialah rendahnya budaya Literasi di indonesia.Hal ini diperkuat dengan data dari UNESCO yang menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 atau 1 dari 1.000 orang Indonesia yang memiliki minat baca serius. Selain itu, World’s Most Literate Nations juga mengeluarkan pernyataan bahwa Indonesia termasuk negara dengan minat baca yang sangat rendah. Padahal, Organisasi Pendidikan dan Kebudayaan PBB menetapkan standar durasi membaca antara 4-6 jam sehari.Salah satu penyebab masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan membaca yang rendah adalah kurangnya bahan bacaan non-pelajaran.Menurut Ketua IKAPI, Rosidayati Rozalina, jenis bacaan yang paling populer adalah novel, komik, dan buku anak. Dan melihat fakta ini, Mahoni Edukasi Digital yang merupakan sebuah startup edutech di Indonesia, sebagai pengembang portal Pendidikan.id, sejak beberapa tahun lalu mencanangkan program komik pendidikan yang menyediakan bacaan literasi berupa komik yang mengangkat topik seperti moral-budi pekerti, kesehatan, pengetahuan, dan sejarah yang dikemas dengan cerita dan gambar yang menarik sehingga disukai oleh anak-anak.
Sejauh ini, program berjalan dengan sangat sukses melalui ujicoba mencetak komik dan membagikannya gratis ke banyak sekolah yang disambut antusias oleh anak-anak Indonesia. Kegiatan yang berlangsung dibeberapa kota di Jawa sampai dengan Papua, dan diharapkan dapat secara langsung membantu meningkatkan minat baca anak.
Namun, kegiatan mencetak komik kemudian membagi-bagikannya tidaklah terlalu efektif, karena tidak semua anak Indonesia kebagian mendapatkan Komik Pendidikan ini. Karena itu, Pendidikan.id sudah memiliki solusinya yaitu dengan menciptakan sebuah aplikasi edutech yang dinamakan Kipin School 4.0 dimana 250 Komik Pendidikan sudah ada di dalam aplikasi Kipin School dan dapat diunduh gratis melalui gawai Android atau IOS, maupun lewat personal komputer berbasis Windows 10.Santoso Suratso, CEO Pendidikan.id, mengatakan, “Saat ini, Pendidikan.id sudah memproduksi lebih dari 250 judul komik (dan akan terus bertambah) yang semuanya bisa diunduh gratis tanpa perlu membayar sepeser pun melalui aplikasi Kipin School 4.0, sehingga bisa dibaca di manapun dan kapanpun tanpa membutuhkan jalur internet lagi.”Santoso Suratso menambahkan, “Kami berharap dengan adanya Komik Pendidikan ini, dapat meningkatkan minat baca anak-anak Indonesia sehingga menjadikan mereka pribadi yang mampu berpikir kritis, mampu menyeleksi segala informasi yang ada, dan menjadi pemuda/pemudi bangsa yang berintegritas dan berdaya saing.”

894 SMK Di Jawa Barat Telah Menjalin Kerjasama Dengan Pelaku Usaha

Revitalisasi lembaga vokasi atau SMK merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menyediakan SDM yang unggul, berkualitas dan memiliki daya saing dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Terdapat beberapa aspek yang akan menjadi perhatian dari Pemprov Jabar dalam melakukan revitalisasi ini seperti aspek kelembagaan, kurikulum hingga kerjasam dengan pihak swasta dan industri guna dapat menyalurkan para lulusan SMK ini. Selain itu, terdapat juga program magang dari guru yang dilakukan untuk memenuhi kualifikasi guru produktif dan kompeten terutama guru tamu dari praktisi.

“Dengan begitu sekolah vokasi dapat meningkatkan SDM dan kompetensi yang mereka miliki dengan lembagai sertifikasi profesi, tidak cukup dengan hanya mengandalkan ijazah. Kompetensi adalah hal yang penting dan akan didapatkan melalui sertifikat kompetensi,” kata Kadis Pendidikan Provinsi Jabar, Dewi Sartika.

Dewi mengatakan bahwa penyelarasan kurikulum SMK dengan kebutuhan pihak pencari pekerja adalah langkah kerja kolaboratif yang dilakukan oleh SMK di Jawa Barat, Dinas Pendidikan, Kementerian Pendidikan, Kementerian Perindustrian, Kemenko Perekonomian dan lembaga terkait lainnya sesuai dengan Inpres No. 9 tahun 2016.

894 SMK Di Jawa Barat Telah Menjalin Kerjasama Dengan Pelaku Usaha
894 SMK Di Jawa Barat Telah Menjalin Kerjasama Dengan Pelaku Usaha

Pada tahun 2018, Pemprov Jawa Barat telah melakukan pilot project keahlian kopi di SMK PPN Tanjungsari sebagai contoh untuk melakukan “link and match” ketika kopi asli Jawa Barat menjadi tren di dunia. Setelah itu, keahlian teh di SMK Negeri 13 Garut dan keahlian Kriya Logam di SMK Negeri 3 Tasikmalaya.

Sejauh ini telah ada 894 SMK di Jabar yang menjadlin kerjasama dengan industri atau pelaku usaha. Hal ini merupakan upaya untuk menyesuaikan kurikulum dengan pihak industri. Pemprov sendiri pun telah menyelarasakan kurikulum 34 kompetensi keahlian sehingga dapat sesuai dengan kebutuhan industri saat ini.

Hal ini bertujuan untuk menghasilkan kelas industri dengan pembelajaran berbasis teaching factory. Pada bidang lainnya, Dinas Pendidikan telah berkoordinasi dengan dinas lainnya seperti Pariwisata dan Kebudayaan, Perikanan dan Kelautan, Kehutanan dan Perkebunan untuk penyelarasan kurikulum di SMK.

“Tujuannya adalah untuk menghasilkan lulusan SMK yang yang memang sesuai dengan kebutuhan industri. Salah satu caranya adalah dengan seluruh SMK menjalin kemitraan strategis dengan pihak industri dan usaha. Ada anak-anak yang magang di tempat industri termasuk guru-gurunya dan profesional industri yang menjadi instruktur di sekolah dan program industri yang hadir ke sekolah,” kata Dewi.

Jawa Barat sejauh ini telah memiliki 2.950 SMK yang dimana 9,6 persen diantaranya adalah SMK negeri dengan kurang lebih 110 kompetensi keahlian. Hal ini adalah peluang serta potensi yang cukup strategis untuk dapat bekerjasama dengan dunia industri dan usaha.

Salah satu contoh kerjasama adalah kerjasama di bidang otomotif dimana sekolah bekerjasama dengan PT Astra Tbk. Di Jabar terdapat sekitar 735 SMK membuka teknik kendaraan ringan akan tetapi di tahun 2019 baru 360 yang menjalin kerjasama dengan PT Astra dan selebihnya ditargetkan pada tahun 2022 semua SMK otomotif dapat bekerjasama dengan PT Astra ataupun perusahaan otomotif lainnya. Model kerjasama yang dimiliki adalah penyelarasan kurikulum, pelatihan guru, peningkatan sarana prasana disertai dengan alih teknologi dan teaching factory,” kata Dewi.

Dengan adanya revitalisasi dari SMK, Dewi yakin pada 2022 tingkat keterserapan dari lulusan SMK oleh dunia usaha akan menjadi 80 persen. Sisanya akan melanjutkan ke jenjang berikutnya ataupun menjadi seorang wirausahawan dengan membuka usaha sendiri. Untuk dapat mendorong hal tersebut tengah disusun Pergub mengenai revitalisasi SMK di Provinsi Jawa Barat sekaligus Pergub SMK mengenai Badan Layanan Umum Daerah.

“Kita mengharapkan sekitar 80 persen lulusan SMK dapat terserap oleh dunia kerja pada 2020 nanti. 15 persen menjadi wirausahawan baru dengan keahlian yang dikuasai sedangkan sisanya akan melanjutkan ke pendidikan berikutnya. Kita sebut ini adalah BMW yaitu Bekerja, Melanjutkan dan Wirausaha,” jelasnya.

Pentingnya Pendidikan dan Sekolah Khusus untuk Anak Gifted

Maria Clara Yubilea Sidharta atau akrab disapa Lala, berhasil menamatkan bangku sarjana di usia 19 tahun. Gadis yang meraih gelar cum laude itu mendapat IPK 3,78 dan baru saja diwisuda pada Sabtu pagi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Dia merupakan remaja gifted dan berkebutuhan khusus.Berkebutuhan khusus memang bukan hanya merujuk pada disabilitas fisik dan mental, tapi juga keterbatasan diri dalam tingkah laku, emosional, dan belajar. Sementara anak gifted merupakan anak berbakat memiliki kecerdasan intelektual very superior atau skor di atas 130 dalam skala weschler. Anak-anak gifted cenderung memiliki kemampuan 4 kali lipat dibanding anak biasa.Jika kita menganggap anak gifted atau jenius bisa melakukan banyak hal, kita salah. Mereka sangat butuh pendampingan dan sangat mudah bosan, terutama saat merasa tak ada lagi tantangan.Di Sekolah,banyak anak gifted yang justru dianggap nakal, sulit diatur, atau trouble maker. Tak sedikit pula anak gifted yang menjadi korban perundungan teman sebaya. Menurut situs resmi American Addiction Centers MentalHelp.net, dalam banyak kasus, anak gifted mampu menguasai pelajaran di sekolah formal. Beberapa ada yang menjadi tidak tertandingi, sementara yang lain justru tidak bisa berkembang sehingga menjadi bosan, frustasi, dan muncul efek negatif lain. “Agar anak-anak bisa mengembangkan kepercayaan diri, anak-anak harus memiliki “ruang” untuk dapat mengatasi tantangan dan kesulitan yang tepat,” tulis laman tersebut. Siswa berbakat yang tidak mendapat tantangan dari materi di sekolah umum, sering mengembangkan diri ke arah negatif atau menjadi terlalu sombong. Oleh sebab itulah, para ahli mengatakan program pendidikan untuk anak berbakat dapat memberi siswa tantangan yang pas sehingga mengasah kemampuan mereka.Sayangnya, di Indonesia sendiri masih sedikit sekolah untuk anak-anak gifted.Ada, tapi sedikit sekali. Pengalaman Lala ketika merasakan bangku Sekolah Dasar(SD),dia sempat berulang kali pindah sekolah dan mogok sekolah. Lala mengaku saat masih SD cepat bosan di sekolah.bu Lala, Patricia Lestasi Taslim, bercerita kepada Kabarberita, anak gifted memiliki aneka macam keunikan dan bakat. Dalam komunitas Parents Support Group for Gifted Childer (PSGGC) Yogyakarta yang dibentuknya, ada salah satu orangtua bercerita anaknya tinggal kelas karena tidak mau menulis. Anak tersebut memiliki skor IQ di atas Lala dan mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan guru, tapi dia tidak mau menulis. Inilah yang menyebabkan anak tersebut tinggal kelas. “Ketika gurunya minta tulis (jawaban), dia jawab, ‘buat apa? Kan bu guru sudah tahu aku bisa jawab. Ngapain aku capek-capek nulis?’. Nah, hal yang seperti ini justru membuat dia tinggal kelas. Karena dia marah, akhirnya dia mogok sekolah,” cerita Patricia ditemui di rumahnya. “Siapa yang salah? Sistem yang terlalu kaku. Harusnya sistem ada untuk membantu manusia, bukan untuk menjadi penjara manusia,” ungkap Patricia.

Kemenperin Ungkap Persoalan Utama Pendidikan Vokasi di Indonesia

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Industri Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Eko Cahyanto, membeberkan beberapa permasalahan utama pendidikan vokasi di Indonesia. Menurutnya, saat ini tengah terjadi disparitas atau kergaman mutu pendidikan khususnya berkaitan dengan kompetensi keahlian.
“Kompetensi keahlian yang ada di SMK jumlahnya sangat banyak. Saat ini terdapat 146 kompetensi keahlian namun hanya 36 yang terkait dengan sektor industri,” katanya dalam acara penutupan pelatihan kepala sekolah dan guru SMK produktif di Kemenperin Jakarta Selasa pagi.
Kemudian permasalahan lain yang ada di sektor pendidikan Tanh Air yakni ketersediaan tenaga pendidik yang belum memadai secara kuantitas. Menurutnya hanya ada 22 persen guru produktif di Indonesia.”Sarana dan prasarana belajar yang juga belum memenuhi kebutuhan, bahkan 30 persen tertinggal 2 generasi,” katanya.Eko mengatakan dengan persoalan-persoalan tersebut akan bertambah parah, jika tidak didukung dengan komponen utama pendidikan seperti kurikulum yang tidak fleksibel, sumber daya manusia yang kurang mumpuni, sarana dan prasarana pendidikan yang masih terbatas.Oleh karena itu, lanjut dia, dengan adanya Inpres 9 tahun 2016 tentang revitalisasi SMK yang di tindak lanjuti oleh Kementerian Perindustrian dengan Program Vokasi Industri permasalahan yang dihadapi saat ini dapat diselesaikan satu per satu.Dia menambahkan, dengan adanya tindak lanjut dari program vokasi industri melalui program peningkatan kompetensi guru SMK yang dilaksanakan kerjasama dengan ITEES Singapura pada tahun 2018 untuk guru SMK bidang Leaders Training Workshop, Instalasi Listrik, Otomasi dan Pemesinan dapat menjadi belal bagi pendidikan di Indonesia.Sebagaimana diketahui, sebanyak 99 guru telah mengikuti pelatihan di Singapura berasal 87 SMK yang terdiri 61 SMK Negeri serta 26 SMK Swasta.
“Kami ucapkan terimakasih kepada ITEES Singapura yang telah menyelenggarakan pelatihan ini dan temasek foundation yang telah mendukung penyelenggaraan program ini. Semoga kerja sama ini dapat di lanjutkan lagi,” pungkasnya.